Alam raya
Alam raya, alam Tuhan… Hush!! Alam Allah… Ya… itu dia… Senyum senang terkembang diwajah ayu gadis enam belas-an, bangga pada keberhasilannya mengoreksi diri sendiri. Ia tengok kanan tengok kiri, sepi… Dia seorang… Anginnya sepoi-sepoi, awannya putih bertepi kebiruan, langitnya jernih, pohon beringin tua dan besar dekat gardu jaga pun kelihatan ramah. Biasanya kan angker… Satu buah biji ceri jatuh menimpa hidungna yang bangir, cairan merahnya harum, mengotori kulit kuning gadingnya, merosot ke buku di pangkuannya meninggalkan noda merah kehitaman yang jelek. Marah? Ingat keutamaan menahan marah lho… Ia tertawa lagi, berhasil mengoreksi diri lagi.
“Yuuuuu!!!” Titik hitam berangsur membentuk silouette manusia. Kecil, item, keringeten, hihihi… tapi tampan sekali oleh kepolosan, kejujuran, kesederhanaan.
“Mba’ Yu dipanggil ibu…” katanya ngos-ngosan sambil menunsuk. Suaranya lirih. Jangan sampai kedengaran orang dia manggil ‘mba’ Yu’. Teriakan ‘’Yu’ tadi kelepasan.
Gadis enam belas-an menutup bukunya. Merapikan rok, lalu berdiri. “Memangnya ada apa?” sempat dielusnya rambut panjang, hitam, ikal, kebanggannya.
Jawabannya hanya gelengan.
“Ya sudah…” Ia tersenyum manis lalu mulai berjalan, agak terhuyung. Baru 3 – 4 meter keringatnya sudah banyak. “Sabar ya kaki…” desahnya. “Sabar itu berat, berat itu perjuangan, perjuangan itu pahala, dan pahala itu surga…” Ia tersenyum sendiri dalam hati. Itu garisnya, ada banyak orang lain yang juga berkaki kecil sebelah. Polio, salah suntik, kelebihan dosis, dia tidak! Dia lahir begitu. Mestinya tidak sakit kan? Tapi nyerinya seringkali datang. Bukan Cuma dikaki tapi juga dihati. “Aku nggak mau pake jilbab, nanti dikira mau menutupi cacat ini.” Katanya berbisik dalam desau angin meski sebenarnya tidak akan ada yang akan menanggapi itu. Dia tidak akan mendengar gemerisik gosip, siapa yang berani? Bapak gadis enam belas-an ini gualaknya minta ampun!!
Jalannya dipercepat. “Padahal aku ingin…” Ia menegaskan setelah menimbang-nimbang. Hhh… mengakui bahwa ia ingin mengenakan jilbab saja sebenarnya susah.
“Aduh Den putri, dari mana saja? Romo Ibu-nya Den Putri sudah nunggu dari tadi lhooo…” Jerit mbo’ Minem embanyya.
“Iya, maaf, tadi Putri main di sawah Romo di Etan.”
Hmmm… jadi namanya Putri. Bagus, orangnya lembut, sopan, mengisyaratkan kerendahan hati atas keningratannya. Atau… kerendahan dirinya atascacat kakinya? Hush! Jahat!!
Putri melangkah masuk, perlahan, pipinya merah karena sengatan matahari dan langkah beratnya. Ke ruang tamu. Ada Romo, Romo Ibu, dan dua orang tamu. Iseng Ia melirik almanak. Hari apa ini? Mmm… Rabu Kliwon, awal September 1964. Ia duduk “Sungkem dulu sama Pak De Put…” Suara Romo Ibu.
Pak De.. maksudnya Raden Mas Dibyo Atmojoyo, Romo-nya Adji, teman mainnya waktu kecil. Adji sekarang sudah besar banget, sudah hampir jadi dokter. Pakaiannya necis, rambutnya klimis, senangnya nongkrong ‘grudukan’ ngobrol tanpa juntrungan dan buat janji kencan. Pasti ada apa-apanya…
“Jangan su’udzon Put…” Bisik hati kecilnya. Tapi Pak De atmojoyo itu dari dulu selalu bilang… ‘kalau sudah besar Putri Pak De ambil jadi mantu yoo…”
“Tapi itu kan dulu Put. Waktu itu Pak De Atmojoyo dan semua orang termasuk kamu sendiri kan belum tahu kalau kakimu bakal kecil sebelah!” Bantah hati kecilnya yang lain, eh mungkin ini hati besarnya soalnya hati kecil manusia itu kan cuma satu hi hi hi…
Astaghfirullah… Putri sungkem pelan-pelan. Ini beban lain, sujud di sajadah lebih ringan dari ritual sungkeman yang biki kakinya berdenyut, lama…
“Adji bulan ini sudah dua puluh enam tahun, kira-kira satu atau dua tahun lagi gelarnya sudah dokter lho…” Pak De Atmojoyo promosi. “Jadi…”
“Kalau soal jodoh-menjodohkan putri belum kepingin Pak De.”
Romo dan Romo Ibu mendelik sekuatnya.
“Masuk!!!” Gelegar Romo. Nyata sekali emosinya.
Jelas sekali tebakannya tepat.
Putri beringsut dari situ tapi nguping sebentar.
“Jangan diambil hati lho Kang Mas…” Suara Romo Ibu. Putri baru enam belas, masih anak-anak…”
“Cocok… Saya juga sepuluh tahun lebih tua dari…bla bla bla…” Itu suara Romo dan Putri tak dengar kelanjutannya. Tak ingin dengar! Hebat!! Ia bisa lari saat itu.
Akhir September 1964…
“Den Putri ngelamun ya?” Sayup-sayup suara itu terdengar. Kurang bisa dicerna karena Putri sedang menatap lambaian dedaunan randu, tebaran halus kapas-kapas ringan seperti asap-asap cinta yang sejuk dihati.
“Den Putri…”
Yang dipanggil malah senyum-senyum sendiri.
“Den Putri!!!”
“Eh… he.. i… iya? Iya… kenapa?”
“Sudah jam dua belas, waktunya pulang.
“Iya… pulang dulu, Jo…” Terpincang-pincang Putri bangkit. Dua langakah, empat langkah, delapan langkah…
“Den Putri!! Jo berteriak.
Putri berpaling ke arahnya.
“Mbo’ Minem kemarin bilang kalau kita ndak boleh berdua-dua, bukan mahram, haram!”
Putri tertegun. Menggeleng pelan. “Takut sama Adji, Jo?”
“Takut sama Gusti Allah…”
Putri berbalik, meneruskan langkah, Ia malu… Ia memang Cuma duduk di depan gubuk Bejo, baca buku. Bejo di ladang. Belasan meter darinya tapi tetap berdua namanya. Istri Adji berdua dengan buruhnya setiap hari… bukan karena dia buruh… karena bejo tidak sekecil dulu lagi… Putri menarik-narik ujung kerudungnya. Ia berkerudung, ia istri orang.
“Komunis itu setan, komunis biadab!!”
“Katanya mau ada komunis…”
“Komunis itu apa?”
“Belum pernah dengar kata komunis…?
Apa ada yang pernah? Kata komunis muncul lebih cepat dari awan hitam yang mendadak bergulung-gulung di langit tanpa sebab dan lebih mengejutkan dari suara guntur yang datangnya pasti didahului kilat. Lalu siapa pula yang dapat menjelaskannya?
Putri tercenung. Ia juga tidak tahu apa itu komunis. Komunis menghalalkan segala cara untuk ini, untuk itu dan… ah itu Cuma satu dari puluhan selentingan yang singgah ditelinganya.
“Komunis itu mengusahakan kemakmuran Put,” Adji mengelus rambutnya. “Dia mempeersenjatai rakyat supaya rakyat tidak tertindas.”
“Senjata apa? Bedil? Bikin orang cepat kalap Kang Mas, Parang bikin orang tambah garang saja…”
“Yaaah bukan untuk itu, untuk membela diri dari penguasa yang mengeruk uang rakyat dengan dalih pajak.”
“Masa’?”
“Iya…”
Kang Mas komunis?”
“Tentu.”
Dahi Putri mengerut. Yakin sekali Kang Mas Adji. Apa Ia memilih sendiri untuk jadi seorang komunis? Ia kelihatan bangga…
Komunis memang tengah berjaya, komunis lebih baik daripada pemerintah. Seperti kata Kang Mas Adji, mereka berjuang mati-matian untuk rakyat. Mengadakan macam-macam kegiatan untuk wanita-wanita agar kaum wanita tak terbelakang katanya. Mengajak buruh-buruh perempuan belajar membaca, mengumpulkan gadis-gadis untuk diajari bela diri, bahkan meminjamkan sawah untuk dikelola dimana hasilnya boleh untuk mereka. Mungkin memang tidak salah… tapi… kenapa tiap beberapa amlam ada beberapa pria berwajah serius datang membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan komunis? Putri pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat tertatih menghidangkan the.
“… dan kita harus menetapkan jizyah…” Kata salah satu rekan Kang Mas Adji sambil meliriknya.
Kang Mas Adji tersenyum. “Putri anggota kok”
Putri balas terrsenyum.
Awal Oktober 1965
Perlahan sekali Putri bangkit. Kaki yang kecil sebelah dengan tubuh langsing saja susah dibuat jalan apalagi ditambah bayi berusia delapan bulan setengah yang tengah dikandungnya sekarang. Tulangnya bergemeletuk goyah seakan siap patah satu-satu. Putri harus sabar. Loncatan kembang kehidupan masa sendirinyaa, masa singkat bersama Adji menguap tapa sisa. Adji sudah terkubur tanpa kepala sewaktu Aidit kabur ke luar negeri. Kang Mas Adji memang dokter muda yang cakep, Ia suami yang baik.
Kandungannya baru dua bulan saat Adji diantar pulang orang tanpa kepala… sadis…
Apa Adji tertipu hingga menyatakan diri sebagai komunis dengan bangga? Apa dia tidak tahu apa itu komunis? Tidak! Tidak mungkin! Adji terpelajar! Dia…. Ah sudah, Adji sudah naik pangkat jadi Almarhum. Tapi… kenapa komunis membunuh komunis?
Putri membenahi kerudungnya, sembunyi-sembunyi Ia ke belakang rumah. Ada jalan kecil tertutup perdu. Putri menyingkirkan rimbunnya perdu itu sedikit lalu menerobos masuk.
Suasananya betul-betul berbeda… Dibalik anggun rumah joglonya yang asri terawat, khas keratonan, hanya berbatas perdu, perkampungan gedhek bambu, lumbung jerami, tai kambing, tai sapi, tai kuda yang aromanya bercampur dengan rumput kering sekaligus masakan dari dapur-dapur umum menyambut hidung seiring dokar rusak, ibu-ibu renta yang tulang belulangnya jelas terlihat, kakek-kakek mengetuk-ngetukkan lesung, anak-anak kecil hitam bertelanjang dada yang asyik bermain gundu menyambut pandangannya.
Dulu den Putri kaget! Spontan memicingkan mata dan menutup hidung. Den Putri mengira dirinya sudah cukup merakyat. Ternyata…
Kenyataan lainnya adalah, ada rakyat di bawah rakyat. Rakyat tertindas yang kemakmurannya sedang diusahakan komunis… Kata tipuan dari Kang Mas Adji.
Putri mendekap sebuah buku merah marun sambil tersenyum, melangkah ringan ke salah satu rumah gedhek burik alias kotor yang sudah begitu akrab dengannya kini. Dielusnya kepala salah satu anak yang asyik main gundu itu sambil lewat.
“Weh… rambutnya berdiri ke atas semua, tajam-tajam lagi, he he he…” Goda Putri yang disambut cibiran si bocah.
“Ora peduli!!” Cetusnya membuat Putri tergelak.
“Kulo nuwun mba’ Sur…”
“Njiih… monggo… monggo pinara…”
“Sampun lengkap?”
“Njih… Den Putri…”
“Wee.. ampuun… Den Putri malih… ndak enak di kuping, putri saja ya…” Putri duduk dengan susah, sekali lagi merapikan kerudungnya, menatap mba’ Sur si penyedia tempat yang berkemben. Mba’ Nem, Mba’ Mur, yang juga berkemben tapi menyelampirkan jarik panjang di bahunya sekaligus ke kepalanya. Sisanya, mba’ Sih, mba’ Ni, dan mba’ Kem sama saja dengan mba’ Sur. Berkemben! Tapi raut keseriusan mereka berbeda. Ini sesuai dengan hadits Bukhari dan Muslim bahwa Allah juga tidak melihat rupa dan fisik mereka tapi iman dan takwa mereka. Termasuk iman dan takwanya sendiri.
“Sekarang kita belajar sama-sama soal cara hidup dalam Islam, bagaimana kita hidup sesuai hukum Qur’an dan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW ya…”
Seperti biasa mereka mengangguk pelan seolah kurang semangat. Mereka juga tidak mempersiapkan alat belajar meski sekedar kertas dan pena. Merka benar-benar hanya berbekal otak. Komputer penyimpan pemberian Allah. Subhanallah…
kalaupun ada yang terlupa, hanya sepatah dua patah kata… beginilah otak-otak yang selalu makan makanan halal hasil dari perasan keringat sendiri.
“As sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan diamnya kanjeng Nabi. Dan apa-apa yang dikatakan kanjeng Nabi itu sesuai dengan syari’ah.”
Mereka manggut-manggut membuat Putri tersenyum seraya membuka lembar berikutnya dari buku merah marun peninggalan Kang Mas Adji. Satu-satunya buku yang selalu ditaruh Kang Mas Adji di bawah bantalnya setiap malam sambil berpesan sebelum matanya terpejam.
“Kalau ada apa-apa jangan lupa bawa buku ini ya sayang…”
Dan memang buku itulah yang pertama dicarinya saat mayat Adji tiba di rumahnya, memberi jawab atas semua tanya yang pernah tercetus dibenaknya dan sepucuk surat yang mungkin sudah ditulis berbulan-bulan sebelum kematiannya.
‘Untuk Putri, calon pendampingku di surga, sesungguhnya mata pedang dakwah jauh sekali dari jangkauan tanganku tapi tinggal beberapa jengkal lagi dari tanganmu karena dia ada dalam genggaman calon anak kita, jundi Allah! Maka…
“Teruskanlah dakwah…” Gumam Putri menyambung sendiri surat yang tak terselesaikan itu. “Terima kasih sudah mempercayai aku Kang Mas…” Hmm, Kang Mas Adji masuk menjadi anggota komunis sebagai mata-mata. Bukan mata-mata pemerintah, tapi mata-mata dakwah, disana mengintai gerak-gerik dan strategi para komunis untuk bisa mematahkan langkah-langkah mereka dengan hikmah. Bersama pemuda-pemuda lain yang mengintai di tiap sudut komunitas negara dan rakyat. Putri menitikkan air mata saat membaca alasan Adji menerima dia si cacat adalah dakwah, bukan dan tidak ada yang lain… dan… jizyah… pajak kepala yang dipungut dari orang-orang asing bukan islam di bawah perlindungan pemerintah Islam. Putri teringat kata-kata rekan Kang Mas Adji waktu itu.
“…dan kita harus menetapkan jizyah…” Jadi, Kang Mas Adji dan mereka… mereka mau mendirikan pemerintaha islam? Subhanallah…
“Komunis itu aliran sesat lan aktif bergerak ditengah wong gede, yo wong cilik…” Suara Romo Putri menggelegar kesal. Saat itu Putri bari tiba.
“Leres… leres… Kang Mas…” Sahutan tak kalah berat, dan Putri tahu itu suara mertuanya.
Lalu senyap…
Beberapa saat lamanya mereka hanya saling bertukar hemm… hemmm…
Hening…
GUBRAKK!! GUBRAKK!! GRUDUK!! GRUDUKKK!!!
“Penggeledahan!! Penggeledahaaan!!! Ikut komunis atau mati!! Ikut komunis atau matiii!!!!”
Suara belasan orang berlari di depan rumah.
“Ikut komunis atau mati!!! Ikut komunis atau mati!!!
“Wuei!! Ini rumahnya Adji Atmojoyo wueeiii!!! Bunuh!1 Bunuh!! Pateni!!!”
GRUDUK!! GRUDUKK!! BRAK!! BRAK!!
Semua yang ada di dalam rumah pastinya terkejut. Apalagi Putri. Romo dan Romo mertuanya gemeruduk ke dalam mencarinya.
“Putriiiii!” seru Romonya.
Pintu depan digedor.
“DOK DOK DOK!!!
‘Ngungsi… ngungsi…” Agak terburu Romonya memapah Putri ke arah belakang. Romo Ibu-mu nyusul Put…”
“Yang penting pergi dari sini!” Romo mertuanya membawakan dua lembar pakaian ganti dalam keranjang kresek.
Pintu depan didobrak.
GEDUBRAKK!! BRAKK!! BRUAKKK!!!
‘Kang Maaaaaaaaaaasss……!!!!!!”
“Jeritan Romo Ibu!!” Pekik putri dalam hati. Ia berbalik. “romo…” Putri menatap ayahnya. “Romo Ibu… Putri ndak mau pergi kalau ndak sama Romo Ibu..”
“Romo Ibu-mu nanti nyusul.” Putus Ayahnya tegas.
Romo mertuanya menjejalkan keranjang kresek tadi kedalam dekapannya lalu berlari ke depan.
Terseok-seok Putri berlari sambil mendekap keranjang kresek itu, merunduk, menerobos masuk ke dalam rimbunnya perdu.
DOR!! DOR!! DOR!!
Siapa yang tertembak Batin Putri was-was.
DOR! DOR!!
“Anakku sudah matiii!!!!”
Suara siapa itu? Romonya? Atau romo mertuanya? Siapa yang sudah mati? Adji atau dirinya?
“Aku disini…” Putri terisak tanpa suara. “Aku ada diantara perdu ini…”
DOR!! DOR!! DOR!!
Siapa yang tertembak?
Putri tak bergeming. Satu-satu air matanya runtuh. Dielusnya perut besar delapan bulan setengah-nya.
“Mata pedang dakwah tak sampai sejengal lagi…”By Ulet