Dia itu penipu

June 23rd, 2006 by bieru

Hmm..mm..rasanya susah sekali buat melupakan atau paling tidak sekedar tidak mengingat dalam beberapa hari, iyah kejadian menyakitkan akibat dari penipuan.

Kenapa saya katakan penipuan?ya karena beneran tertipu, siapa sih yang mengira akan terjadi sperti itu?sembilan puluh sembilan persen dalam diriku tidak mengira hal jelek akan terjadi.Oooo betapa tidak…seandainya anda dalam poisiku tentu akang mengalami nasib yang sama.

Disini saya bukan mau meratapi nasib, toh itu sudah suratan dari sana nya harus kejadian seperti itu, tapi sebagai curhat daripada di pendam saya ungkapkan saja disini.Tidak masalah walapaun curhatnya hanya sepihak, lagian ketika curhat ke orang lain suka ada su’udhan apalagi lawam curhat nya berlaian jenis seperti waria misalkan.

Sebenarnya sebaelum kejadian saya sudah di ingatkan oleh tiga orang teman dalam jarak waktu berlainan tapi karena terpesona oleh bentuk lahiriyah saya pun waktu itu tidak percaya, ya seperti teman-temanku yang saya ajak biacar tentang nasibku semuanya serempak tidak percaya..ah ngak mungkin dia berbuat seperti itu…!, eh..ama aku dia baik banget traktirin makanan bayarin trasnfor, Hmm..ketemu ama aku dulu dia baik-baik saja lembut dan perhatian, begitulah komentar teman-teman yang ku ajak bicara.

Iya mereka menyadari dalam satu hal….’iyah sih saya belum pernah ada hubungan materi ama dia", betul juga kata hadist manusia itu suka lemah dalam tiga hal sala satunya harta.

Sekarang akibat dari kejadian itu saya rugi materi banyak sekali, sungguh dalam sejarahku baru kali ini mengalami kerugian sebanyak ini, hutangku belum terbayar.Saya sudah berusaha dengan baik-baik sebanyak tiga kali lebih meminta hak saya tapi tanpa respon, jangan kan memberi ganti rugi….menanggapi omongan ku saja tidak…tersayat juga rasanya, kalau tidak ingat lagi agama ntah gemana…

Saya tidak membenci lahiriyah dia dengan cara berpakean yang luar biasa, aktifitas nya juga luar biasa..sungguh tidak benci….tapi saya benci sikapnya yang tidak ber kemanusiaan berkedok dengan semua aksesoris lahiriyah..sungguh benci, tak pernah saya benci manusia kecuali ama orang seperti dia.

akhir kata…ternyata balutan pakean yang indah, jilbab besar, aktifitas di lembaga agama, suka bicara agama dan lain lain, itu semua dalam dunia sekarang tidak lah jaminan orang itu amanah atas hak orang lain, punya rasa kemanusian terhadap orang lain, menghargai keringat dan fikiran orang lain, ya paling tidak ada lah ucapan terimaksih….ini mah tidak..sama sekali.

Semoga Allah swt memberi jalan bagi saya dapat rejeki sehingga hutang-hutangku dapat terbayar dan saya bisa pulang kampung dengan nyaman tanpa beban apa apa, dan allah swt lah yang akan membalas dia dengan yang setimpal sehingga dia sadar bahwa melanggar hak orang lain itu ada akibat nya di dunia ataupun setelah mati.amin amin

Pornografi dan pornoaksi

June 12th, 2006 by bieru

RUU Pornografi

Saya mendengar rancangan RUU ini sudah lama bahkan masuk meja DPR sudah sejak lama, di musyawarahkan sampai terakhir dengar kabar akan di sah kan akhir bulan juni ini, benarkah?kenapa perlu RUU APP?apa sebaiknya yang harus di lakukan ummat islam sendiri?

Di balik di undur-undurnya pen sah-an RUU APP ini, sebenarnya saya tidak mau ber suudhan dan menebak sebelum hal itu terjadi atau di maklumi semua orang.Cuman kalau berangkat dari RUU-RUU lainya yang terlebih dahulu di sahkan seperti RUU wakaf misalnya, kita perlu urut dada kita yang rata ini(bahasa kasarnya kurus) karena ternyata semua perlu uang untuk sekedar sah, tidak kurang 2 miliyar rupiah buat sahkan RUU wakaf semua di tanggung MUI lewat santunan DEPAG yang ternyata di akhir di ketahui uang itu dari DAU, yaitu dana abadi ummat yang terkenal kasus nya itu.

Hati kita tentunya bakal miris dan ter iris-iris kenapa lembaga yang katanya wakil rakyat itu ketika di minta untuk mendukung kepentingan rakyat tidak bergerak kecuali setelah ada uang, ya termasuk wakil rakyat yang ketika pemilu ber kaos dan berlogo partai islam (saya tidak berani mengatakan mereka mewakili islam).Nampaknya tarik ulur kekuatan uang terus bergulir sampai ada yang merasa lelah.

Hmm iya hidup ini senantiasa perlu aturan terlepas dari apapun pandangan hidup yang di anutnya, tanpa aturan hidup akan berserakan dan tidak menentu, yang ada yaitu yang kuat menindas yang lemah.Ya sekarang pun ada aturan tidak sedikit yang tidak melaksanakan aturan, jadi ada aturan serta ada penegak aturan tersebut sekaligus sehingga bukan hanya sekedar berlembar-lembar kertas terus masuk mesium.

Apalah artinya lembaran-lembaran Undang-Undang kalau hanya sekedar arsip dan pajangan perpustakaan saja tanpa di laksanakan, itu semua tidak mencapai yang di tuju yaitu tercipta nya ketenangan dan terjaganya moral masyarakat.Benar penyakit kita yang akut itu bernama Moral, maksudnya moral pejabat kita rendah sehingga rakyatpun tidak segan berbuat yang serupa.

Nah melihat kondisi yang seperti itu, terus harus bagaimana sikap kaum muslimin, pemuka agama, ustad, suami, ibu dan remaja muslim?

Langkah paling tepat saya rasa evaluasi ke dalam tubuh kaum muslimin sendiri dari pada hiruk pikuk tentang berlembar-lembar RUU itu.Kita kaji kembali bagaimana sih masalah Tubuh kita itu?kita buka-buka Fiqh tentang masalah yang berkaitan dengan tubuh,apa yang harus di perhatikan, bagian anggota tubuh mana yang boleh nampak di muka umum?, bagian tubuh mana yang perlu perawatan lebih serius?.

Jadi kita tidak tejebak oleh arus yang hanya ini lah porno itulah tidak porno, tapi kita harus lebih maju lagi ini porno dan beginilah cara memperlakukan nya aggota tubuh yang di anggap porno itu dan kapan waktu membuka dan membicarakan hal tersebut.

Dalam fiqh sering kali masalah anggota tubuh di muat di bab pertama sekaligus cara merawatnya agar tetap sehat dan jauh dari penyakit termasuk penyakit sosial yang di timbulkan oleh anggota tubuh itu.

Ada bab Thaharah yang membahas bagaimana membersihkan anggota tubuh yang biasa ngeluarkan, terkena najis serta membersihkan dari hadast.

Mana yang boleh nampak dari anggota tubuh kita dan mana yang tidak boleh nampak, semua pembahasan nya ada di baba Aurat.

Bagaimana ketika ada melakukan kejahatan dengan merusak anggota tubuh seperti pelecehan, merusak alat kelamin, memperkosa dan sejenisnya, itu bisa di lihat di bab Jinayat.

Hubungan sex seperti apa yang boleh dan yang di larang serta bahaya nya bagi para pelaku hal tersebut, itu semua bisa di baca di baba tentang Jima’.

Insya allah peran semua kalangan tadi dengan memberikan informasi ajaran Islam yang mulia ini terutama terhadap generasi muda akan lebih menjaga dari hal-hal yang merusak moral.Melaksanakan ajaran agama itu bagi sebagian kalangan akan terasa berat akan tetapi tidak lah mustahil, karena nya berusaha lah, Insya allah.

Pernikahan Dan Politik

June 7th, 2006 by bieru

Mungkin ketika anda membaca judul kolom ini terasa aneh, ko pernikahan dan politik, ya begitulah kenyataan akhir-akhir ini terutama mencuat setelah menjamurnya parpol.Apakah ini suatu kemajuan atau kah kemunduran dan penggeseran dari ajaran Islam yang mulia?

Awalnya saya kurang menanggapi dan sedikit kurang percaya ketika teman-teman mengatakan banyak kasus terjadi pernikahan gagal karena tidak direstui oleh Murabi(saya sendiri kurang sreg dengan istilah murabi insyallah di kolom berikutnya).Jadi dua pasangan yang sudah saling mencintai dan kedua ortu sudah saling merestui tiba-tiba gagal karena si anak patuh dengan restu Murabinya.

Baiklah sekarang kita lihat, dalam Islam (maksudnya dalam Fiqh Munakahat=Fiqh tentang pernikahan) di sebutkan dan di atur cara memilih pasangan.Hendaknya masing-masing calon mengedepankan pilihan atas Agama di samping pilihan lainya seperti termuat dalam hadist, Dari Nabi saw. beliau bersabda: “ Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena harta bendanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung ”. Muttafaq Alaih.

Betul dalam Fiqh juga ada aturan Sekuffu(kesetaraan) dalam makna Takamul yaitu saling melengkapi karena kesetaraan dalam arti Tamasul yaitu sama percis suatu hal yang sangat sulit kecuali dalam hal jual beli.Nah dalam hal sekuffu ini boleh saja pernikahan apalagi baru sebatas rencana di batalkan, tapi yang punya hak disini adalah Wali(yaitu yang paling dekat ke si perempuan dari arah Ashobah bukan dawil Arham seperti Bapak, Kakek, saudara laki-Laki, Anak laki-laki dari saudara laki-laki , paman dan anak laki-laki paman-bukan paman dari arah ibu-).Jadi jika tidak ada bapak urutan selanjutnya yang yang menggantikan hak si bapak bukan jatuh ke Murabi karena tidak termasuk dalam Ashobah.

Nah sekarang kasusnya adalah Murabi yang ambil alih, ini jelas tidak lah tepat karena menyalahi aturan dalam Fiqh Munakahat.

Kalau saya lihat Murabi mengambil alih hak wali itu tidak lebih kecuali motip politik artinya tidak rela muridnya jatuh keluar kelompok atau partai sehingga mengurangi jumlah suara atau anggota nya, ini terjadi baik yg ber induk ke parpol ataupun ke kelompok ke agamaan.

Saya punya pandangan sebaiknya dalam melaksanakan agama islam sesuai dengan aturan-aturan nya yang telah ada dalam Fiqh, ketika masalah pernikahan pakailah aturan pernikahan ada dalam bab Munakahat, ketika terjun ke politik pakailah aturan politik ada di bab Fiqh Siasah.Jangan di campuraduk sehingga betul-betul menempatkan dan melaksanakan ajaran islam sesuai tempat dan aturan nya.

Saya takut dengan penggeseran ajaran-ajaran yang mulia itu menjadikan Islam bukan lagi solusi tapi justru masalah.Insya allah tetap optimis dengan banyak baca buku-buku ke islaman akan tumbuh kesadaran untuk ber islam sesuai tuntunan nya, Insya allah.walahu’alam

Akhlak Ber-organisasi

June 1st, 2006 by bieru

Saya sebagai orang yang suka baca berita, akhir-akhir ini merasa perihatin dan terusik juga dengan lagi ramai nya pemberitaan dan bahasan dalam sebuah media suara suatu organisasi terbesar di tanah air.
   
  Apa sih yang membuat semua berfikir dan merenung dan membuat saya terusik?ya masalah masuk nya ideologi luar terhadap sebuah organisasi,begitulah ungkapan nya. seperti tentang misi dan visi serta pengaruh terhadap model dan isi pengkaderan,kemudian dari hal seperti ini memunculkan kesemerawutan dalam tubuh organisasi,sebagian tidak taat lagi akan intruksi pimpinan karena lebih loyal terhadap organisasi lainya,pemanfaatan amal usaha,lembaga untuk pengkaderan dan penyebaran visi dan misi idiologi luar.
   
  Baiklah, menurut hemat saya dalam ber organisasi ada dua hal penting yang perlu di catat, pertama manhaj al diniy (pedoman beragama ), yang kedua manhaj al idariy (pedoman berorgnisasi).
   
  Nah dalam hal manhaj al diniy, insyallah semuanya lurus-lurus saja, baik itu oragnisasi ormas ataupun yang lainya,misalkan Muhammadiyah,Nahdhotul Ulama, Persatuan Islam, Tarbiyah, Al Wasliyah, PPP,PKS,PKB,PBR,PBB dan lain-lain.semuanya ahlus sunnah yang insyallah membawa keselamatan.Amin Ya Robb.
   
  Masing-masing organisasi punya ciri khas tersendiri dalam manhaj al idary nya,baik dalam orientasi pengembangan, pengkaderan, administrasi, ke anggotaan serta cara menyelesaikan permasalahan dalam tubuh nya sendiri.
   
  Terus apa dong yang menjadi permasalahan?
   
  Ketika hal kedua yaitu manhaj al idariy bersinggungan ini lah yang memunculkan permasalahan.karena semua organisasi punya pedoman organisasi,aturan tata administrasi,paket pengkaderan dan pengembangan amal usaha organisasi yang berbeda-beda serta tujuan nya berbeda-beda.
   
  Ambil contoh Muhammadiyah misalkan, kan manhaj al idariy nya mengembangkan amal usaha bidang sosial keagamaan untuk di nikmati semua kalangan manusia tanpa pilih-pilih agama,suku dan warna kulit,dengan membuat rumah sakit,panti asuhan,lembaga pendidikan dan lain-lain.
   
  Nah ketika ada ormas yang ber orientasi ke politik peraktis masuk organisasi semacam Muhammadiyah, yang akan di timbulkan adalah kehancuran dalam tubuh Muhammadiyah,karena mengganggu manhaj al idariy nya.misalkan lembaga sosial di jadikan ajang pembibitan kader-kader untuk pensuksesan pemilu, pilkada dan sejenisnya.Semestina lembaga sosial itu untuk di jadikan pengkaderan dan pengembangan amal usaha sejenisnya yg lebih besar agar lebih di nikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa ada unsur pemilu atau pilkada di dalamnya.
   
  Kenyataan seperti ini membuat keretakan dalam tubuh organisasi islam sendiri, bukan lah sebaliknya yaitu menimbulkan kebaikan dan kemajuan.
   
  Jadi apa yang sebaiknya di lakukan untuk mengatasi masalah seperti ini?saya punya usulan kira-kira begini:
   
  1.semua ormas, parpol yang berlabel islam agar saling menghargai masing-masing manhaj idary organisasinya,tidak memakai amal usaha organsisai lain untuk kepentingan organsisasinya yang sifatnya idariyah,seperti pemanfaatn untuk pemilu,pilkada dan lain-lain.
   
  2.semua organisasi berusaha jangan menyerobot organisasi lainya yg sedang berjalan, biarlah mereka berjalan masing-masing dengan garapan nya masing-masing, bukan kah masih banyak umat islam yang belum tergarap?nah yang belum tergarap itu di garap agar semakin kecil beban yang di tanggung,bukan justru menambah beban dan permasalahan dalam tubuh sesama oraganisasi islam.
   
  2.oraganisasi islam yang sifatnya sosial kemasyarakatan agar lebih tegas dalam bersikap apakah boleh atau tidak anggota nya bercampur dalam politik praktis,sehingga tidak ada lagi istilah pemanfaatan amal usaha untuk kepentingan golongan bukan ummat secara kesuluruhan.
   
  3.lebih menanamkan lagi akhlak berislam diantara para aktifis organisasi,termasuk akhlak berislam itu saling menghormati dan menghargani dalam manhaj idary masing-masing organisasi serta ikut mendukung terciptanya ketenangan dalam organisasi lainya.
   
  Semoga isi hati saya ini sebagai ucapan berlomba-lomba dalam mencapai kebaikan dengan tetap berpegang terhadap akhlak islam sehingga islam itu benar-benar membawa ketenangan dan semakin tergarapnya semua lapisan masyarakat tanpa ada kecekcokan yang membawa ke madhorotan bagi ke dalam tubuh organisasi islam sendiri.Amin Wallahu’alam

Ibunya Para Syuhada

April 29th, 2006 by bieru

Palestina Ummu Nidhol, beliau lah ibunya para Syuhada.Seorang Da’iyah yang sukses mengabdikan diri selama 25 tahun berdakwah dalam Mesjid, menjadikan rumah nya sebagai pusat pendidikan bagi para keluarga, gadis-gadis remaja dan para pemuda pengemban Jihad di negri para Nabi yaitu Palestina.

Bagaimana kiat sukses beliau? bagaimana cita-cita dan harapan nya terhadap kaum sejenisnya?.

2 Ikutilah petikan hiwar(wawancara) antara beliau dan Wafa’ Sa’dawy dari Al Tibyan, di terjemahin oleh Si Jim n Bieru dari Al Tibyan edisi ke 18, tahun ke 2, Muharram 1427 H, Februari 2006.

Semoga pembaca bisa mengambil hikmah nya dan bisa menjadikan semangat untuk lebih serius membangun ummat sesuai situasi dan kondisi yang di hadapi masing-masing lingkungan nya, Insyallah.

Wafa’ Sa’dawy : Sebelum lebih lanjut, kami ingin mengenal ibu terlebih dahulu.

Ummu Nidhol :Nama saya Maryam Muhammad Farhat, umur 56 tahun, janda dan seorang ibu dari 6 anak laki-laki serta 4 anak perempuan, tinggal di Gaza.

Semua anak laki-laki saya aktif di "Kataib Al Qosam", tiga diantaranya telah syahid yaitu Nidhol, Farhat dan Muhammad.

Wafa’ Sa’dawy :Apa tantangan-tantangan yang ibu hadapi selama perjalanan Dakwah dan Jihad?

Ummu Nidhol :Saya hidup dalam keluarga yang berpegang dengan adat dan agama akan tetapi dalam masalah agam belum pada tahap istiqomah seperti melaksakan sholat tapi belum berhijab.

Bulan-bulan pertama setelah pernikahanku, mulailah saya mengikuti pengajian husu wanita di Mesjid yang di bawakan oleh Syekh Ya’qub Abu Kuwaik, melalui beliau lah Allah SWT menunjukan saya ke jalan yang selama ini jauh saya lalui.

Secara bertahap keimanan dan ke istiqomahan ku meningkat, mulailah saya memakai Hijab meskipun tantangan-tantangan yang saya hadapi dari suami.Banyak kurasakan kepedihan karena permasalahan Hijab dan ke Istiqomahan merupakan dua hal yang aneh dalam lingkungan keluargaku selama masa 35 tahun sampai beberapa kali saya kena ancaman thalak, semua saya hadapi dengan kesabaran dan kekuatan, tetap memakai hijab, istiqomah dan mendidik anak dengan pendidikan yang islami.

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu menumbuhkan ajaran Jihad kepada anak-anak?

Ummu Nidhol : Sejak saya mengenal ke Istiqomahan tertanamlah dalam jiwa saya sebuah niatan untuk membina rumah dan keluarga islami yang semuanya di curahkan untuk Islam.

Sebelum gerakan Intifadhah dan Hamas muncul ke permukaan, saya sudah mendorong anak-anak untuk memahami ajaran agama Islam dengan pemahaman yang benar sehingga ketika tiba waktu kemerdekaan Al Quds mereka termasuk pelopornya.

Semua ini saya lakukan semata-mata mengharap ridho dan pahala dari Allah Swt.Alhamdulilah Allah Swt mewujudkan cita-cita saya dan memberi kehormatan kepada saya di dunia ini berupa syahidnya 3 anak, anak anak perempuan dan keluarga mereka tekun dan taat kepada ajaran Islam serta suami saya sebelum wafatnya alhamdulilah beritiqomah dalam islam.

Wafa’ Sa’dawy : Apa sebab-sebab terpenting sehingga ibu sukses seperti ini?

Ummu Nidhol: Seorang ibu merupakan Madrasah(tempat pendidikan) pertama bagi anak-anak nya, janganlah menunggu arahan dan himbauan dari yang lainya.Ibu-lah yang menjadi sebab penting dalam mencetak generasi penerus yang sukses sesuai dengan peran nya yang pokok dalam mendidik dan meberi pemahaman kepada anak-anak tentang agama sampai mereka tahu kewajiban seperti wajibnya Jihad, terutama untuk kasus palestina hukumnya wajib ‘ain.

Sejak masa awal perkebangan anak, saya tanamkan dalam diri mereka kecintaan dan kewajiban tentang jihad, latihan berbuat baik, besarnya tanggung jawab yang berkaitan dengan kejadian-kejadian dilapangan, nasehat-nasehat yang berupa anjuran dan larangan serta mengikutsertakan mereka dalam ibadah sehari-hari, seperti sholat malam, sholat fajar dan sholat duha.Selepas sholat saya berikan tausiah kepada mereka sehingga ketika menginjak usia syahab(dewasa) sudah tertanam kecintaan kepada jihad.

Sebab-sebab lain merupakan pelengkap dan pembantu seperti Mesjid, teman yang baik, kelompok teman berkumpul.Mereka memilih kelompok jihad islami karena Hamas belum berdiri, setelah Hamas berdiri mereka bergabung dengan Hamas melalui ‘Kataib Al Qosam" sampai rumah saya di jadikan oleh mereka sebagai tempat berkumpul.

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu mengatur antara kewajiban seorang ibu rumah tangga dan seorang aktifis di luar rumah?

Ummu Nidhol : Sesuai dengan urutan kepentingan nya, kemampuan mengatur waktu sangat membantu kita mencapai kesuksesan yang besar dan utama.Nah untuk mencapai sebuah tujuan kita harus korbankan kepentingan pribadi.

Wafa’ Sa’dawy : Apa faktor yang mendorong Hamas mengikuti pemilihan umum?

Ummu Nidhol : Iya, Hamas baru pertama kali mengikuti pemilihan umum, kita sebagai rakyat punya harapan kepada pemerintah agar tidak sendiri dalam menentukan aturan-aturan dan hukum-hukum.

Alhamdulillah pemilihan umum sukses dan sambutan rakyat luar biasa, mereka mengharapkan kepada kita agar bisa memperbaiki kerusakan dalam pemerintah sehingga ada perubahan dari realitas yang tidak baik ke arah yang lebih baik dalam semua segi kehidupan.

Wafa’ Sa’dawy : Dengan mengikuti pemilihan umum tentunya ada pengaruh-negatif- terhadap gerakan jihad, bagaimana pendapat ibu?

Ummu Nidhol : Peran politik tidak bisa di pisahkan dari gerakan jihad, satu sama lain saling menyempurnakan karena gerakan jihad butuh dukungan politik.

Wafa’ Sa’dawy : Ibu adalah perempuan pertama yang di calonkan oleh Hamas untuk DPR, apakah ini sebagai penghormatan kepada ibu karena posisi ibu seorang "ummu Syuhada" ataukah hanya sebagai upaya Hamas kedunia luar untuk menunjukan bahwa ada perkembangan perubahan pemikiran dalam tubuh hamas?

Ummu Nidhol : saya yakin hal ini karena pentingnya peranan wanita.

Wafa’ Sa’dawy : Dibawah penguasa penjajah tentunya semua tingkatan dalam bangsa Palestina kondisinya tidak lah mendukung, apa kiranya yang akan dilakukan hamas?

Ummu Nidhol : Kondisi negara terjajah bukanlah suatau masalah maksudnya tantangan karena kondisi-kondisi yang telah di lewati bangsa Palestina memberi pelajaran kepada kita bagaimana cara mengahadapi situasi tersulit.Aktifitas politik tidaklah sesulit melawan penjajah.

Wafa’ Sa’dawy : Dalam situasi yang penuh penderitaan seperti sekarang, apa yang akan di lakukan oleh perempuan Palestina di DPR?

Ummu Nidhol : Mencurahkan semua kemampuan dengan penuh optimis dan kebulatan tekad.Perempuan Palestina tidaklah lemah dalam segi kemampuan, mereka punya rasa optimis dan perencanaan yang siap mengemban tanggung jawab dalam situasi serba sulit dan tak mendukung.Aktifitas politik tidaklah sesulit mengahadapi penjajah.

Wafa’ Sa’dawy : Dalam pemilu di setiap wilayah terutama di Tepi, calon-calon dari Hamas sukses dengan kemenangan mutlak menyisihkan pesaing yang lainya, apakah kesuksesan ini kerena adanya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh gerakan "Fath"?

Ummu Nidhol : Oh tidak, tetapi karena kepercayaan masyarakat dan apa yang mereka rasakan dan persahabatan dalam aktifitas Hamas, inilah sebab utama sehingga kami menang mutlak.

Wafa’ Sa’dawy : Apakah sesuai dengan perkiraan ibu sebelumnya?

Ummu Nidhol : Iya

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana sikap masyarakat atas kemenangan Hamas?

Ummu Nidhol : sambutan yang hangat

Wafa’ Sa’dawy : Pesan ibu untuk kaum muslimah di dunia.

Ummu Nidhol : Kesadaran merupakan fenomena yang baik yang di bangun dengan keseriusan dan tidak merasa hina dengan melakukan hal tersebut.

Kami menginginkan agar kaum muslimah di seluruh dunia untuk lebih mencurahkan kesungguhan nya yang lebih besar lagi dalam menghadapi realitas yang pahit dan kesusahan yang menyeluruh.

Siapa dia

April 29th, 2006 by bieru

Bieru Banyak yang bertanya yang di blog ini poto siapa? semua mengira itu adalah poto anak ku-saya belom punya anak-.Itu namanya "Aul’ keponan ku, putri pertama dari ‘Mbak Reni", dia temanku, sahabatku dan saudaraku.

Semoga panjang umur, banyak rejeki, jauh dari penyakit, pinter, sholehah dan sayang ama kedua orang tua dan keluarga.Amin

Kapan-kapan ketemu Om bawain ‘boneka onta’ heuheuheu, tenang aja Omm tidak seperti onta jadi jangan takut yak!

Dari si Om

J-im

Nasi Kedelai

April 19th, 2006 by bieru

Kedelai Nasi Kedelai

Om ngak ada nafsu makan nih? Oh…gampang, coba saja variasi dalam memasak makanan beratnya terutama nasi agar selalu menarik dan tampil penasaran bagi yang memandang atau mencium harumnya.

Nah, sekarang Om kasih cara buat nasi kedelai.Pertama beras secukupnya,kedua kedelai dua atau tiga sendok setelah di cuci bersih, ketika daun salam dua lembar, keempat garam dan bumbu atom, bagi yang suak warna tambah saja warna kuning dari kunyit.

semua di satukan dalam beras yg sudah di bilas serta siap di masak.Lebih baik masaknya pakai rice cooker agar santai gitu.

Nasi Hmm menunggu mateng, ada kegiatan penunjang yaitu membuat sayuran mentah dari Mentimun di iris-iris kecil,bawang merah, tomat, cabe bubuk, merica, garam dan kecap merk apa saja bebas.Aduk semuanya sampai rata serta jangan lupa cicipin rasanya, wow segar kan?

Buat lauk special nya ya apa saja sesuai selera, ikan, daging, telur dan lain-lain.Selamat mencoba

Zhawãhir al-Afkãr al-Muhammadiyyah ’Abra Qarn min al-Zamãn

April 12th, 2006 by bieru

Zhawãhir al-Afkãr al-Muhammadiyyah ’Abra Qarn min al-Zamãn

Muh_trans Bahwa keberhasilan perjuangan Muhammadiyah yang berjalan hampir satu abad pada hakikatnya merupakan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri oleh seluruh warga Persyarikatan. Dengan modal keikhlasan dan kerja keras segenap anggota disertai dukungan masyarakat luas Muhammadiyah tidak kenal lelah melaksanakan misi da’wah dan tajdid dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Gerakan kemajuan tersebut ditunjukkan dalam melakukan pembaruan pemahaman Islam, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa di negeri ini.Namun disadari pula masih terdapat sejumlah masalah atau tantangan yang harus dihadapi dan memerlukan langkah-langkah strategis dalam usianya yang cukup tua itu. Perjuangan Muhammadiyah yang diwarnai dinamika pasang-surut itu tidak lain untuk mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya serta dalam rangka menyebarkan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang terhampar luas ini.

Karena itu dengan senantiasa mengharapkan ridha dan pertolongan Allah SWT Muhammadiyah dalam usia dan kiprahnya jelang satu abad ini menyampaikan pernyataan pikiran (zhawãhir al-afkãr/statement of mind) sebagai berikut:

A. Komitmen Gerakan

  1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid, berasas Islam, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sesuai jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sebagai wujud ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin. Misi kerisalahan dan kerahmatan yang diemban Muhammadiyah tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai kiprahnya dalam pengembangan amal usaha, program, dan kegiatan yang sebesar-besarnya membawa pada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
  2. Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad telah banyak mendirikan taman kana-kanak, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu, usaha ekonomi, penerbitan, dan amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga membangun masjid, mushalla, melakukan langkah-langkah da’wah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok Tanah Air. Muhammadiyah bahkan tak pernah berhenti melakukan peran-peran kebangsaan dan peran-peran kemanusiaannya dalam dinamika nasional dan global. Kiprah Muhammadiyah tersebut menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa misi gerakan Islam yang diembannya bersifat amaliah untuk kemajuan dan pencerahan yang membawa pada kemaslahatan masyarakat yang seluas-luasnya. Peran kesejarahan yang dilakukan Muhammadiyah tersebut berlangsung dalam dinamika yang beragam. Pada masa penjajahan sejak berdirinya tahun 1330 H/1912 M., Muhammadiyah mengalami cengkeraman politik kolonial sebagaimana halnya dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia saat itu, tetapi Muhammadiyah tetap berbuat tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pada masa awal dan era Orde Lama Muhammadiyah mengalami berbagai situasi sulit akibat konflik politik nasional yang kompleks, namun Muhammadiyah tetap berkiprah dalam da’wah dan kegiatan kemasyarakatan. Pada era Orde Baru di bawah rezim kekuasaan yang melakukan depolitisasi (pengebirian politik), deideologisasi (pengebirian ideologi), dan kebijakan politik yang otoriter, Muhammadiyah juga terus berjuang mengembangkan amal usaha dan aktivitas da’wah Islam. Sedangkan pada masa reformasi, Muhammadiyah memanfaatkan peluang kondisi nasional yang terbuka itu dengan melakukan revitalisasi dan peningkatan kualitas amal usaha serta aktivitas da’wahnya. Melalui kiprahnya dalam sejarah yang panjang itu Muhammadiyah telah diterima oleh masyarakat luas baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional sebagai salah satu pilar kekuatan Islam yang memberi sumbangan berharga bagi kemajuan peradaban umat manusia.
  3. Kiprah dan langkah Muhammadiyah yang penuh dinamika itu masih dirasakan belum mencapai puncak keberhasilan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya, sehingga Muhammadiyah semakin dituntut untuk meneguhkan dan merevitalisasi gerakannya ke seluruh lapangan kehidupan. Karena itu Muhammadiyah akan melaksanakan tajdid (pembaruan) dalam gerakannya sehingga di era kehidupan modern abad ke-21 yang kompleks ini sesuai dengan Keyakinan dan Kepribadiannya dapat tampil sebagai pilar kekuatan gerakan pencerahan peradaban di berbagai lingkungan kehidupan.
B. Pandangan Keagamaan

  1. Muhammadiyah dalam melakukan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan dilandasi oleh keyakinan dan pemahaman keagamaan bahwa Islam sebagai ajaran yang membawa misi kebenaran Ilahiah harus didakwahkan sehingga menjadi rahmatan lil-‘alamin di muka bumi ini. Bahwa Islam sebagai Wahyu Allah yang dibawa para Rasul hingga Rasul akhir zaman Muhammad Saw., adalah ajaran yang mengandung hidayah, penyerahan diri, rahmat, kemaslahatan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Keyakinan dan paham Islam yang fundamental itu diaktualisasikan oleh Muhammadiyah dalam bentuk gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia.
  2. Misi da’wah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal Persyarikatan ini sejak didirikannya yang dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran 104, yang artinya: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Kewajiban dan panggilan da’wah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan Khaira Ummah sekaligus dalam membangun masyarakat Islam yang ideal seperti itu sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 110, yang artinya: ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”. Dengan merujuk pada Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan multiaspek itu melalui da’wah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), sehingga umat manusia memperoleh keberuntungan lahir dan batin dalam kehidupan ini. Da’wah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
  3. Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan). Tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi), yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan Islam yang demikian Kyai Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam akidah, ibadah, dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaruan dalam amaliah mu’amalat dunyawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan. Semangat tajdid Muhammadiyah tersebut didorong antara lain oleh Sabda Nabi Muhammad s.a.w., yang artinya: ”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Karena itu melalui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang tetap kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.
  4. Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak masyarakat tengahan (ummatan wasatha) yang berkemajuan baik dalam wujud sistem nilai sosial-budaya, sistem sosial, dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, rasionalitas dan spiritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan, masyarakat Islam semacam itu selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaingan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat ”berjuang menghadapi tantangan” (al-jihad li al-muwajjahat) lebih dari sekadar ”berjuang melawan musuh” (al-jihad li al-mu’aradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah). Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhada ‘ala al-nas di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak ”madaniyah” tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai-nilai ruhani (spiritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilai-nilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normatif berperilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasi-relasi yang menjunjungtinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasad fi al-ardh), kedhaliman, dan hal-hal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan.
C. Pandangan tentang Kehidupan

  1. Muhammadiyah memandang bahwa era kehidupan umat manusia saat ini berada dalam suasana penuh paradoks. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luar biasa dibarengi dengan berbagai dampak buruk seperti lingkungan hidup yang tercemar (polusi) dan mengalami eksploitasi besar-besaran yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, lebih jauh lagi melahirkan sekularisasi kehidupan yang menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan-keseimbangan hidup yang bersifat religius. Kemajuan kehidupan modern yang melahirkan antitesis post-modern juga diwarnai oleh kecenderungan yang bersifat serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan juga telah melahirkan corak kehidupan yang lebih egaliter dan berkeadilan secara meluas, tetapi juga membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, yang jika tanpa bingkai moral dan spiritual yang kokoh dapat merusak hubungan-hubungan manusia yang harmoni.
  2. Dalam memasuki babak baru globalisasi, selain melahirkan pola hubungan positif antarbangsa dan antarnegara yang serba melintasi, pada saat yang sama melahirkan hal-hal negatif dalam kehidupan umat manusia sedunia. Di era global ini masyarakat memiliki kecenderungan penghambaan terhadap egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasiyyah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi juga telah mendorong ekstrimisme baru berupa lahirnya fanatisma primordial agama, etnik, dan kedaerahan yang bersifat lokal sehingga membangun sekat-sekat baru dalam kehidupan. Perkembangan global pasca perang-dingin (keruntuhan Komunisme) juga ditandai dengan pesatnya pengaruh Neo-liberalisme yang semakin mengokohkan dominasi Kapitalisme yang lebih memihak kekuatan-kekuatan berjuasi sekaligus kian meminggirkan kelompok-kelompok masyarakat yang lemah (dhu’afã) dan tertindas (mustadh’afin), sehingga melahirkan ketidak-adilan global yang baru. Namun globalisasi dan alam kehidupan modern yang serba maju saat ini juga dapat dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan Islam seperti Muhammadiyah untuk memperluas solidaritas umat manusia sejagad baik sesama umat Islam (ukhuwah islamiyyah) maupun dengan kelompok lain (‘alãqah insãniyyah), yang lebih manusiawi dan berkeadaban tinggi.
  3. Karena itu Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat, bangsa, dan dunia untuk semakin berperan aktif dalam melakukan ikhtiar-ikhtiar pencerahan di berbagai lapangan dan lini kehidupan sehingga kebudayaan umat manusia di alaf baru ini menuju pada peradaban yang berkemajuan sekaligus bermoral tinggi.
D. Tanggungjawab Kebangsaan dan Kemanusiaan

  1. Muhammadiyah memandang bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah berada dalam suasana transisi yang penuh pertaruhan. Bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan krisis multiwajah akan menentukan nasib perjalanan bangsa ke depan. Masalah korupsi, kerusakan moral dan spiritual, pragmatisme perilaku politik, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, separatisme, kerusakan lingkungan, dan masalah-masalah nasional lainnya jika tidak mampu diselesaikan secara sungguh-sungguh, sistematik, dan fundamental akan semakin memperparah krisis nasional. Wabah masalah tersebut menjadi beban nasional yang semakin berat dengan timbulnya berbagai musibah dan bencana nasional seperti terjadi di Aceh, Nias, dan daerah-daerah lain yang memperlemah dayatahan bangsa. Krisis dan masalah tersebut bahkan akan semakin membebani tubuh bangsa ini jika dipertautkan dengan kondisi sumberdaya manusia, ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur nasional maupun lokal yang jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai bangsa lain.
  2. Bangsa Indonesia juga tengah berada dalam pertaruhan ketika berhadapan dengan perkembangan dunia yang berada dalam cengkeraman globalisasi, politik global, dan berbagai tarik-menarik kepentingan internasional yang diwarnai hegemoni dan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan. Indonesia bahkan menjadi lahan paling subur dan tempat pembuangan limbah sangat mudah dari globalisasi dan pasar bebas yang berwatak neo-liberal. Jika tidak memiliki daya adaptasi, filter, dan integritas kepribadian yang kookoh maka bangsa ini juga akan terombang-ambing dalam hegemoni dan liberalisasi politik global yang penuh konflik dan kepentingan. Pada saat yang sama bangsa ini juga tengah berhadapan dengan relasi-relasi baru yang dibawa oleh multikulturalisme yang memerlukan orientasi kebudayaan dan tatanan sosial baru yang kokoh.
  3. Dalam menghadapi masalah dan tantangan internal maupun eksternal itu bangsa Indonesia memerlukan mobilisasi seluruh potensi dan kemampuan baik berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, modal sosial-kultural, dan berbagai dayadukung nasional yang kuat dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi yang sangat penuh pertaruhan dan sarat tantangan tersebut maka sangat diperlukan kepemimpinan yang handal dan visioner baik yang didukung kemampuan masyarakat yang mandiri baik di ingkat nasional maupun lokal agar berbagai masalah, tantangn, dan potensi bangsa ini mampu dihadapi serta dikelola dengan sebaik-baiknya.
  4. Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim juga tidak lepas dari perkembangan yang dihadapi saudara-saudaranya di dunia Islam. Mayoritas dunia Islam selain dililit oleh masalah-masalah nasional masing-masing, pada saat yang sama berada dalam dominasi dan hegemoni politik Barat yang banyak merugikan kepentingan-kepentingan dunia Islam. Sementara antar dunia Islam sendiri selain tidak terdapat persatuan yang kokoh, juga masih diwarnai oleh persaingan dan konflik yang sulit dipertemukan, sehingga semakin memperlemah posisi umat Islam dalam percaturan internasional. Kendati begitu, masih terdapat secercah harapan ketika Islam mulai berkembang di neger-negeri Barat dan terjadi perkembangan alam pikiran baru yang membawa misi perdamaian, kemajuan, dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.
E. Agenda dan Langkah Ke Depan

  1. Dalam menghadapi masalah bangsa, umat Islam, dan umat manusia sedunia yang bersifat kompleks dan krusial sebagaimana digambarkan itu Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan nasional akan terus memainkan peranan sosial-keagamaannya sebagaimana selama ini dilakukan dalam perjalanan sejarahnya. Usia jelang satu abad telah menempa kematangan Muhammadiyah untuk tidak kenal lelah dalam berkiprah menjalankan misi da’wah dan tajdid untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Jika selama ini Muhammadiyah telah menorehkan kepeloporan dalam pemurnian dan pembaruan pemikrian Islam, pengembangan pendidikan Islam, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan, serta dalam pembinaan kecerdasan dan kemajuan masyarakat; maka pada usianya jelang satu abad ini Muhammadiyah selain melakukan revitalisasi gerakannya juga berikhtiar untuk menjalankan peran-peran baru yang dipandang lebih baik dan lebih bermasalahat bagi kemajuan peradaban.
  2. Peran-peran baru sebagai wujud aktualisasi gerakan da’wah dan tajdid yang dapat dikembangkan Muhammadiyah antara lain dalam menjalankan peran politik kebangsaan guna mewujudkan reformasi nasional dan mengawal perjalanan bangsa tanpa terjebak pada politik-praktik (politik kepartaian) yang bersifat jangka pendek dan sarat konflik kepentingan. Dengan bingkai Khittah Ujung Pandang tahun 1971 dan Khittah Denpasar tahun 2002, Muhammadiyah secara proaktif menjalankan peran dalam pemberanrasan korupsi, penegakan supremasi hukum, memasyarakatkan etika berpolitik, pengembangan sumberdaya manusia, penyelamatan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, memperkokoh integrasi nasional, membangun karakter dan moral bangsa, serta peran-peran kebangsaan lainnya yang bersifat pencerahan. Muhammadiyah juga akan terus menjalankan peran dan langkah-langkah sistematik dalam mengembangkan kehidupan masyarakat madani (civil society) melalui aksi-aksi da’wah kultural yang mengrah pada pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis, otonom, berkeadilan, dan berakhlak mulia.
  3. Dalam pergaulan internasional dan dunia Islam, Muhammadiyah juga terpanggil untuk menjalankan peran global dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, adil, maju, dan berkeadaban. Muhammadiyah menyadari pengaruh kuat globalisasi dan ekspansi neo-liberal yang sangat mencengkeram perkembangan masyarakat dunia saat ini. Dalam perkembangan dunia yang sarat permasalahan dan tantangan yang kompleks di abad ke-21 itu Muhammadiyah dituntut untuk terus aktif memainkan peran kerisalahannya agar umat manusia sedunia tidak terseret pada kehancuran oleh keganasan globalisasi dan neo-liberal, pada saat yang sama dapat diarahkan menuju pada keselamatan hidup yang lebih hakiki serta memiliki peradaban yang lebih maju dan berperadaban mulia.
  4. Khusus bagi umat Islam baik di tingkat lokal, naional, maupun global Muhammadiyah dituntut untuk terus maminkan peran da’wah dan tajdid secara lebih baik sehingga kaum muslimin menjadi kekuatan penting dan menentukan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban di era modern yang penuh tantangan ini. Era kebangkitan Islam harus terus digerakkan ke arah kemajuan secara signifikan dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam. Umat Islam harus tumbuh menjadi khaira ummah yang memiliki martabat tinggi di hadapan komunitas masyarakat lain di tingkat lokal, nasional, dan global. Di tengah dinamika umat Islam yang semacam itu Muhammadiyah harus tetap istiqamah dan terus melakukan pembaruan dalam menjalankan dan mewujudkan misi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang tercinta ini.
Demikian Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad sebagai ungkapan keyakinan, komitmen, pemikiran, sikap, dan ikhtiar mengenai kehadiran dirinya sebagai Gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid dalam memasuki usianya hampir seratus tahun. Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad tersebut menjadi bingkai dan arah bagi segenap anggota dan pimpinan Persyarikatan baik dalam menghadapi perkembangan kehidupan maupun dalam melaksanakan usaha-usaha menuju tercapainya tujuan Muhammadiyah yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Akhirnya, dengan senantiasa memohon ridha dan karunia Allah SWT., semoga kiprah Muhammadiyah di pentas sejarah ini membawa kemasalahatn bagi hidup umat manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Nashr min Allah wa fath qarib.

Mbak Bekerja..

April 3rd, 2006 by bieru

Tkw Negara indonesia, itulah negri tercinta dengan segudang permasalahan yang tidak kunjung berkesudahan terutama dalam bidang lapangan kerja, ah saya sudah capek kalu nulis analisa kenapa negri se kaya indonesia tidak mampu menghidupi manusia yang berpijak di atas perut bumi indonesia.

Tidak sedikit yang mencari kehidupan ke negara luar, kenapa? ya karena sebab di atas tadi.Sungguh terharu kalau kita melihatnya dari dekat dan mau sekedar berkomunikasi dengan mereka.

Ya, kita akui yang banyak meninggalkan negri kita adalah saudara-saudara kita yang perempuan, dengan keterampilan bahkan tanpa keterampilan dan tanpa kemampuan bahasa, mereka pun berani mencari nafkah.kenapa harus wanita yang bekerja? kemana laki-laki(suami)?

Sungguh komplek permasalahan, mulai dari pemberangkatan, biro jasa tenaga kerja yang nakal, perlindungan hukum tidak ada dan lain-lain.Rasanya pulau jawa untuk menenggung beban permasalahan tenaga kerja wanita ini bakalan tenggelam karena banyaknya dan beratnya beban ini.

Terlepas semua itu, saya sedikit menguraikan niatan dan tujuan sebagian dari mereka, kenapa mencari nafkah sejauh itu.saya sebagai laki-laki ya ada rasa malu juga karena jika di bandingkan dalam masalah tanggung jawab ternyata mereka lebih besar merasakan tanggu jawab untuk menghidupi keluarganya terutama anak.

Tidak sedikit dari mereka yang janda, di daerah nya sulit cari pekerjaan.Ya jangankan janda yang berpendidikan tamatan SD atau SMP, yang sarjana saja kesulitan cari pekerjaan.Sedih emang keadaan kita.

Ketika saya tanya, "Kenapa bekerja sampai ninggalkan anak"?, Hmm saya sudah berpisah dengan suami dan punya anak satu usia SD, Kalau saya tidak bekerja bagaimana pendidikan anak saya?". Jadi dengan sekian tahun kontrak kerja dan dengan gajih sekian, cukup sebagai modal nanti di tanah air membuka usaha untuk biayayi pendidikan anak.Subhannalah!!

Saya merenung, dalam hati bertanya" dimanakah pernah si bapak terhadap anaknya?"kenapa ko semuanya di bebankan ke pihak perempuan, sudah di cerai di tambah beban berat membiayai anak".Sungguh yang luar biasa ada yang sampai membiyayai anak nya program Megister di sala satu perguruan tinggi terkenal di Jakarta.

Saya lihat keceriaan dalam wajah si mbak, dengan senyuman wajah yang sudah keriput dia menuturkan" Saya sudah lega anak saya sudah berkeluarga dan sekarang sedang menempuh Magister".Selamat mbak semoga mbak dan anak mbak sukses selalu dan selalu dalam lindungan Allah SWT Amien.

Alam Raya

March 25th, 2006 by bieru

Alam raya 

Alam raya, alam Tuhan… Hush!! Alam Allah… Ya… itu dia…  Senyum senang terkembang diwajah ayu gadis enam belas-an, bangga pada keberhasilannya mengoreksi diri sendiri.  Ia tengok kanan tengok kiri, sepi… Dia seorang… Anginnya sepoi-sepoi, awannya putih bertepi kebiruan, langitnya jernih, pohon beringin tua dan besar dekat gardu jaga pun kelihatan ramah.  Biasanya kan angker… Satu buah biji ceri jatuh menimpa hidungna yang bangir, cairan merahnya harum, mengotori kulit kuning gadingnya, merosot ke buku di pangkuannya meninggalkan noda merah kehitaman yang jelek.  Marah?  Ingat keutamaan menahan marah lho… Ia tertawa lagi, berhasil mengoreksi diri lagi.

“Yuuuuu!!!”  Titik hitam berangsur membentuk silouette manusia.  Kecil, item, keringeten, hihihi… tapi tampan sekali oleh kepolosan, kejujuran, kesederhanaan.

“Mba’ Yu dipanggil ibu…” katanya ngos-ngosan sambil menunsuk.  Suaranya lirih.  Jangan sampai kedengaran orang dia manggil ‘mba’ Yu’.  Teriakan ‘’Yu’ tadi kelepasan.

Gadis enam belas-an menutup bukunya.  Merapikan rok, lalu berdiri.  “Memangnya ada apa?”  sempat dielusnya rambut panjang, hitam, ikal, kebanggannya.

Jawabannya hanya gelengan.

“Ya sudah…”  Ia tersenyum manis lalu mulai berjalan, agak terhuyung.  Baru 3 – 4 meter keringatnya sudah banyak.  “Sabar ya kaki…”  desahnya.  “Sabar itu berat, berat itu perjuangan, perjuangan itu pahala, dan pahala itu surga…”  Ia tersenyum sendiri dalam hati.  Itu garisnya, ada banyak orang lain yang juga berkaki kecil sebelah.  Polio, salah suntik, kelebihan dosis, dia tidak!  Dia lahir begitu.  Mestinya tidak sakit kan?  Tapi nyerinya seringkali datang.  Bukan Cuma dikaki tapi juga dihati.  “Aku nggak mau pake jilbab, nanti dikira mau menutupi cacat ini.”  Katanya berbisik dalam desau angin meski sebenarnya tidak akan ada yang akan menanggapi itu.  Dia tidak akan mendengar gemerisik gosip, siapa yang berani?  Bapak gadis enam belas-an ini gualaknya minta ampun!!

Jalannya dipercepat.  “Padahal aku ingin…” Ia menegaskan setelah menimbang-nimbang.  Hhh… mengakui bahwa  ia ingin mengenakan jilbab saja sebenarnya susah.

“Aduh Den putri, dari mana saja?  Romo Ibu-nya Den Putri sudah nunggu dari tadi lhooo…” Jerit mbo’ Minem embanyya.

“Iya, maaf, tadi Putri main di sawah Romo di Etan.”

Hmmm… jadi namanya Putri.  Bagus, orangnya lembut, sopan, mengisyaratkan kerendahan hati atas keningratannya.  Atau… kerendahan dirinya atascacat kakinya?  Hush! Jahat!!

Putri melangkah masuk, perlahan, pipinya merah karena sengatan matahari dan langkah beratnya.  Ke ruang tamu.  Ada Romo, Romo Ibu, dan dua orang tamu.  Iseng Ia melirik almanak.  Hari apa ini?  Mmm… Rabu Kliwon, awal September 1964.  Ia duduk “Sungkem dulu sama Pak De Put…”  Suara Romo Ibu.

Pak De.. maksudnya Raden Mas Dibyo Atmojoyo, Romo-nya Adji, teman mainnya waktu kecil. Adji sekarang sudah besar banget, sudah hampir jadi dokter.  Pakaiannya necis, rambutnya klimis, senangnya nongkrong ‘grudukan’ ngobrol tanpa juntrungan dan buat janji kencan.  Pasti ada apa-apanya…

“Jangan su’udzon Put…”  Bisik hati kecilnya.  Tapi Pak De atmojoyo itu dari dulu selalu bilang… ‘kalau sudah besar Putri Pak De ambil jadi mantu yoo…”

“Tapi itu kan dulu Put.  Waktu itu Pak De Atmojoyo dan semua orang termasuk kamu sendiri kan belum tahu kalau kakimu bakal kecil sebelah!”  Bantah hati kecilnya yang lain, eh mungkin ini hati besarnya soalnya hati kecil manusia itu kan cuma satu hi hi hi…

                Astaghfirullah… Putri sungkem pelan-pelan. Ini beban lain, sujud di sajadah lebih ringan dari ritual sungkeman yang biki kakinya berdenyut, lama…

“Adji bulan ini sudah dua puluh enam tahun, kira-kira satu atau dua tahun lagi gelarnya sudah dokter lho…” Pak De Atmojoyo promosi.  “Jadi…”

“Kalau soal jodoh-menjodohkan putri belum kepingin Pak De.”

Romo dan Romo Ibu mendelik sekuatnya.

“Masuk!!!”  Gelegar Romo.  Nyata sekali emosinya.

Jelas sekali tebakannya tepat.

Putri beringsut dari situ tapi nguping sebentar.

“Jangan diambil hati lho Kang Mas…”  Suara Romo Ibu.  Putri baru enam belas, masih anak-anak…”

“Cocok… Saya juga sepuluh tahun lebih tua dari…bla bla bla…”  Itu suara Romo dan Putri tak dengar kelanjutannya.  Tak ingin dengar!  Hebat!! Ia bisa lari saat itu.

 

Akhir September 1964…

“Den Putri ngelamun ya?”  Sayup-sayup suara itu terdengar.  Kurang bisa dicerna karena Putri sedang menatap lambaian dedaunan randu, tebaran halus kapas-kapas ringan seperti asap-asap cinta yang sejuk dihati.

“Den Putri…”

Yang dipanggil malah senyum-senyum sendiri.

“Den Putri!!!”

“Eh… he.. i… iya? Iya… kenapa?”

“Sudah jam dua belas, waktunya pulang.

“Iya… pulang dulu, Jo…”  Terpincang-pincang Putri bangkit.  Dua langakah, empat langkah, delapan langkah…

“Den Putri!!  Jo berteriak.

Putri berpaling ke arahnya.

“Mbo’  Minem kemarin bilang kalau kita ndak boleh berdua-dua, bukan mahram, haram!”

Putri tertegun.  Menggeleng pelan.  “Takut sama Adji, Jo?”

“Takut sama Gusti Allah…”

Putri berbalik, meneruskan langkah,  Ia malu… Ia memang Cuma duduk di depan gubuk Bejo, baca buku.  Bejo di ladang.  Belasan meter darinya tapi tetap berdua namanya.  Istri Adji berdua dengan buruhnya setiap hari… bukan karena dia buruh… karena bejo tidak sekecil dulu lagi… Putri menarik-narik ujung kerudungnya.  Ia berkerudung, ia istri orang.

                   “Komunis itu setan, komunis biadab!!”

“Katanya mau ada komunis…”

“Komunis itu apa?”

“Belum pernah dengar kata komunis…?

Apa ada yang pernah?  Kata komunis muncul lebih cepat dari awan hitam yang mendadak bergulung-gulung di langit tanpa sebab dan lebih mengejutkan dari suara guntur yang datangnya pasti didahului kilat.  Lalu siapa pula yang dapat menjelaskannya?

Putri tercenung. Ia juga tidak tahu apa itu komunis.  Komunis menghalalkan segala cara untuk ini, untuk itu dan… ah itu Cuma satu dari puluhan selentingan yang singgah ditelinganya.

“Komunis itu mengusahakan kemakmuran Put,”  Adji mengelus rambutnya.  “Dia mempeersenjatai rakyat supaya rakyat tidak tertindas.”

“Senjata apa? Bedil? Bikin orang cepat kalap Kang Mas, Parang bikin orang tambah garang saja…”

“Yaaah bukan untuk itu, untuk membela diri dari penguasa yang mengeruk uang rakyat dengan dalih pajak.”

“Masa’?”

“Iya…”

Kang Mas komunis?”

“Tentu.”

Dahi Putri mengerut.  Yakin sekali Kang Mas Adji.  Apa Ia memilih sendiri untuk jadi seorang komunis?  Ia kelihatan bangga…

                 Komunis memang tengah berjaya, komunis lebih baik daripada    pemerintah.  Seperti kata Kang Mas Adji, mereka berjuang mati-matian untuk rakyat.  Mengadakan macam-macam kegiatan untuk wanita-wanita agar kaum wanita tak terbelakang katanya.  Mengajak buruh-buruh perempuan belajar membaca, mengumpulkan gadis-gadis untuk diajari bela diri, bahkan meminjamkan sawah untuk dikelola dimana hasilnya boleh untuk mereka.  Mungkin memang tidak salah… tapi… kenapa tiap beberapa amlam ada beberapa pria berwajah serius datang membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan komunis?  Putri pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat tertatih menghidangkan the.

“… dan kita harus menetapkan jizyah…”  Kata salah satu rekan Kang Mas Adji sambil meliriknya.

Kang Mas Adji tersenyum.  “Putri anggota kok”

Putri balas terrsenyum.

  Awal Oktober 1965

Perlahan sekali Putri bangkit.  Kaki yang kecil sebelah dengan tubuh langsing saja susah dibuat jalan apalagi ditambah bayi berusia delapan bulan setengah yang tengah dikandungnya sekarang.  Tulangnya bergemeletuk goyah seakan siap patah satu-satu.  Putri harus sabar.  Loncatan kembang kehidupan masa sendirinyaa, masa singkat bersama Adji menguap tapa sisa.  Adji sudah terkubur tanpa kepala sewaktu Aidit kabur ke luar negeri.  Kang Mas Adji memang dokter muda yang cakep, Ia suami yang baik. 

Kandungannya baru dua bulan saat Adji diantar pulang orang tanpa kepala… sadis…

Apa Adji tertipu hingga menyatakan diri sebagai komunis dengan bangga?  Apa dia tidak tahu apa itu komunis?  Tidak!  Tidak mungkin!  Adji terpelajar!  Dia…. Ah sudah, Adji sudah naik pangkat jadi Almarhum.  Tapi… kenapa komunis membunuh komunis?

Putri membenahi kerudungnya, sembunyi-sembunyi Ia ke belakang rumah.  Ada jalan kecil tertutup perdu.  Putri menyingkirkan rimbunnya perdu itu sedikit lalu menerobos masuk.

Suasananya betul-betul berbeda…  Dibalik anggun rumah joglonya yang asri terawat, khas keratonan, hanya berbatas perdu, perkampungan gedhek bambu, lumbung jerami, tai kambing, tai sapi, tai kuda yang aromanya bercampur dengan rumput kering sekaligus masakan dari dapur-dapur umum menyambut hidung seiring dokar rusak, ibu-ibu renta yang tulang belulangnya jelas terlihat, kakek-kakek mengetuk-ngetukkan lesung, anak-anak kecil hitam bertelanjang dada yang asyik bermain gundu menyambut pandangannya.

Dulu den Putri kaget!  Spontan memicingkan mata dan menutup hidung.  Den Putri mengira dirinya sudah cukup merakyat.   Ternyata…

Kenyataan lainnya adalah, ada rakyat di bawah rakyat.  Rakyat tertindas yang kemakmurannya sedang diusahakan komunis…  Kata tipuan dari Kang Mas Adji.

Putri mendekap sebuah buku merah marun sambil tersenyum, melangkah ringan ke salah satu rumah gedhek burik alias kotor yang sudah begitu akrab dengannya kini.  Dielusnya kepala salah satu anak yang asyik main gundu itu sambil lewat.

“Weh… rambutnya berdiri ke atas semua, tajam-tajam lagi, he he he…” Goda Putri yang disambut cibiran si bocah.

“Ora peduli!!”  Cetusnya membuat Putri tergelak.

“Kulo nuwun mba’ Sur…”

“Njiih… monggo… monggo pinara…”

“Sampun lengkap?”

“Njih… Den Putri…”

“Wee.. ampuun… Den Putri malih… ndak enak di kuping, putri saja ya…”  Putri duduk dengan susah, sekali lagi merapikan kerudungnya, menatap mba’ Sur si penyedia tempat yang berkemben.  Mba’ Nem, Mba’ Mur, yang juga berkemben tapi menyelampirkan jarik panjang di bahunya sekaligus ke kepalanya.  Sisanya, mba’  Sih, mba’ Ni, dan mba’  Kem sama saja dengan mba’ Sur.  Berkemben!  Tapi raut keseriusan mereka berbeda.  Ini sesuai dengan hadits Bukhari dan Muslim bahwa Allah juga tidak melihat rupa dan fisik mereka tapi iman dan takwa mereka.  Termasuk iman dan takwanya sendiri.

“Sekarang kita belajar sama-sama soal cara hidup dalam Islam, bagaimana kita hidup sesuai hukum Qur’an dan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad SAW ya…”

Seperti biasa mereka mengangguk pelan seolah kurang semangat.  Mereka juga tidak mempersiapkan alat belajar meski sekedar kertas dan pena.  Merka benar-benar hanya berbekal otak.  Komputer penyimpan pemberian Allah.  Subhanallah…

kalaupun ada yang terlupa, hanya sepatah dua patah kata… beginilah otak-otak yang selalu makan makanan halal hasil dari perasan keringat sendiri.

“As sunnah adalah perkataan, perbuatan, dan diamnya kanjeng Nabi.  Dan apa-apa yang dikatakan kanjeng Nabi itu sesuai dengan syari’ah.”

Mereka manggut-manggut membuat Putri tersenyum seraya membuka lembar berikutnya dari buku merah marun peninggalan Kang Mas Adji.  Satu-satunya buku yang selalu ditaruh Kang Mas Adji di bawah bantalnya setiap malam sambil berpesan sebelum matanya terpejam.

“Kalau ada apa-apa jangan lupa bawa buku ini ya sayang…”

Dan memang buku itulah yang pertama dicarinya saat mayat Adji tiba di rumahnya, memberi jawab atas semua tanya yang pernah tercetus dibenaknya dan sepucuk surat yang mungkin sudah ditulis berbulan-bulan sebelum kematiannya.

‘Untuk Putri, calon pendampingku di surga, sesungguhnya mata pedang dakwah jauh sekali dari jangkauan tanganku tapi tinggal beberapa jengkal lagi dari tanganmu karena dia ada dalam genggaman calon anak kita, jundi Allah! Maka…

“Teruskanlah dakwah…”  Gumam Putri menyambung sendiri surat yang tak terselesaikan itu.   “Terima kasih sudah mempercayai aku Kang Mas…”  Hmm,  Kang Mas Adji masuk menjadi anggota komunis sebagai mata-mata.  Bukan mata-mata pemerintah, tapi mata-mata dakwah, disana mengintai gerak-gerik dan strategi para komunis untuk bisa mematahkan langkah-langkah mereka dengan hikmah.  Bersama pemuda-pemuda lain yang mengintai di tiap sudut komunitas negara dan rakyat.  Putri menitikkan air mata saat membaca alasan Adji menerima dia si cacat adalah dakwah, bukan dan tidak ada yang lain… dan… jizyah… pajak kepala yang dipungut dari orang-orang asing bukan islam di bawah perlindungan pemerintah Islam.  Putri teringat kata-kata rekan Kang Mas Adji waktu itu.

“…dan kita harus menetapkan jizyah…” Jadi, Kang Mas Adji dan mereka… mereka mau mendirikan pemerintaha islam?  Subhanallah…

 

  “Komunis itu aliran sesat lan aktif bergerak ditengah wong gede, yo wong cilik…”  Suara Romo Putri menggelegar kesal.  Saat itu Putri bari tiba.

“Leres… leres… Kang Mas…”  Sahutan tak kalah berat, dan Putri tahu itu suara mertuanya.

Lalu senyap…

Beberapa saat lamanya mereka hanya saling bertukar hemm… hemmm…

Hening…

GUBRAKK!! GUBRAKK!!  GRUDUK!! GRUDUKKK!!!

“Penggeledahan!!  Penggeledahaaan!!!  Ikut komunis atau mati!!  Ikut komunis atau matiii!!!!”

Suara belasan orang berlari di depan rumah.

“Ikut komunis atau mati!!!  Ikut komunis atau mati!!!

“Wuei!! Ini rumahnya Adji Atmojoyo wueeiii!!! Bunuh!1 Bunuh!! Pateni!!!”

GRUDUK!! GRUDUKK!! BRAK!!  BRAK!!

Semua yang ada di dalam rumah pastinya terkejut.  Apalagi Putri.  Romo dan Romo mertuanya gemeruduk ke dalam mencarinya.

“Putriiiii!” seru Romonya.

Pintu depan digedor.

“DOK DOK DOK!!!

‘Ngungsi… ngungsi…”  Agak terburu Romonya memapah Putri ke arah belakang.  Romo Ibu-mu nyusul Put…”

“Yang penting pergi dari sini!”  Romo mertuanya membawakan dua lembar pakaian ganti dalam keranjang  kresek.

Pintu depan didobrak.

GEDUBRAKK!! BRAKK!! BRUAKKK!!!

‘Kang Maaaaaaaaaaasss……!!!!!!”

“Jeritan Romo Ibu!!”  Pekik putri dalam hati.  Ia berbalik.  “romo…”  Putri menatap ayahnya.  “Romo Ibu… Putri ndak mau pergi kalau ndak sama Romo Ibu..”

“Romo Ibu-mu nanti nyusul.”  Putus Ayahnya tegas.

Romo mertuanya menjejalkan keranjang kresek tadi kedalam dekapannya lalu berlari ke depan.

Terseok-seok Putri berlari sambil mendekap keranjang kresek itu, merunduk, menerobos masuk ke dalam rimbunnya perdu.

DOR!! DOR!! DOR!!

Siapa yang tertembak  Batin Putri was-was. 

DOR! DOR!!

“Anakku sudah matiii!!!!”

Suara siapa itu? Romonya? Atau romo mertuanya? Siapa yang sudah mati? Adji atau dirinya?

“Aku disini…”  Putri terisak tanpa suara.  “Aku ada diantara perdu ini…”

DOR!!  DOR!! DOR!!

Siapa yang tertembak?

Putri tak bergeming.  Satu-satu air matanya runtuh.  Dielusnya perut besar delapan bulan setengah-nya.

“Mata pedang dakwah tak sampai sejengal lagi…”By Ulet