Rumah Sakit Dalam Islam
Rumah Sakit Islam Masa Kemajuan
Seiring dengan gerakan penerjemahan karya-karya barat dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang kedokteran pada abad ke 2 Hijriyah atau lebih tepatnya pada masa Harun Arasyid dari dinasti Abbasiyah tahun 170 H sampai 193H dengan membangun lembaga ilmu pengetahuan Baitul Hikmah yang lebih maju lagi ketika anak nya beliau menjadi khalifah yaitu Al Makmun tahun 198 H sampai 218 H.
Kemajuan bidang kedokteran pada masa ini di tandai dengan munculnya karya-karya kedokteran dalam bahasa Arab dari hasil olah fikir para ulama atas karya-karya Yunani dan perdaban lainya yang masuk dalam futuhat islamiyah, sehingga berdirilah rumah sakit- rumah sakit modern dengan sekaligus perpustakaan dan tempat pendidikan kedokteran yang menjadi satu dalam lingkungan rumah sakit, sungguh sebuah karya yang luar biasa besar bagi perdaban manusia yang mana saat itu Eropa dalam ke gelapan dan kemunduran, Subhanallah.
Baiklah kita mencoba untuk mengenal rumah sakit- rumah sakit Islam modern pada masa-masa ke emasan Islam ini walapaun secara garis besar bukan secara utuh semua rumah sakit Islam yang ada ketika itu..
Dengan mengetahui peradaban Islam dalam bidang kesehatan semoga kita lebih percaya diri lagi bahwa Islam benar-benar sebagai agama rahmat dan pembawa keselamatan dengan perhatian nya yang sangat besar terhadap kesehatan fisik maupun mental spiritual.
Rumah sakit dalam Islam secara garis besar terbagi ke dalam dua jenis yaitu rumah sakit yang tidak permanen dengan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainya (Al Mustasyfa’a Al Muntaqil) atau sekarang lebih terkenal dengan sebutan rumah sakit lapangan.
Pada masa kepemimpinan Al Muqtadir Billah, seorang khalifah dinasti Abbasiyah yang ke delapan belas tahun 295 H-320H, masa ini ada yang bernama Tsabit Bin Sanan Bin Tsabit Bin Qurrah, beliau seorang dokter dan cucu dari tokoh dokter terkemuka di Bagdad yang menjadi staff ahli Baitul Hikmah waktu itu yaitu Tsabit Bin Qurrah.
Tsabit Bin Sanan Bin Tsabit Bin Qurrah mengajukan proposal kepada Al Muqtadir agar menyediakan para dokter, perawat, peralatan medis, tenda-tenda, obat-obatan dan logistik untuk berkelana ke setiap penjuru negri mengobati orang-orang yang sakit, mulai dari kota ke kota, lembah ke lambah sampai ke pegunungan yang di huni orang-orang Badwi.
Rumah sakit lapangan yang lebih besar lagi pada masa kepemimpinan raja Sultan Mahmud Al Saljuqy tahun 511 H-525 H, beliau seorang khalifah dari dinasi Daulah Saljuqiyah.
Pada masa ini dengan peralatan medis lebih lengkap, para dokter lebih profesional dan para perawat lebih terampil serta obat-obat-an lebih lengkap, berkeliling negri negri dengan menggunakan empat puluh ekor unta sebagai alat kendaraan, singgah di suatu kota untuk mengobati orang-orang sakit kemudian berpindah ke kota lainya, dari satu lembah ke lembah lainya, tanpa membedakan mana kaya atau miskin, Muslim atau Kfir.Subhanallah luar biasa agung nya.
Dengan kaca mata sekarang mungkin copy-an rumah sakit lapangan itu dengan memakai ambulan-ambulan, pesawat terbang, kapal laut dan box-bok kontener yang di sulap jadi rumah sakit jalan.Apakah ummat Islam sekarang tidak mampu? sungguh mampu asalkan ada kemauan keras serta kerja keras di sokong dengan dana infak, sodaqoh dan zakat yang memadai, karena zaman ke emasan Islam pun sokongan dana tercesar adalah dari infaq sodaqoh dan sumbangan dermawan.
Rumah sakit dalam Islam model kedua adalah rumah sakit permanen (Al Mustasyfa’a Al Tsabit), rumah sakit ini di bangun di kota- kota dan daerah-daerah seperti nanti akan di ceritakan.
Rumah Sakit Al ‘Adhy (Al Mustasyfa’a Al ‘Adhy) yang di bangun pada masa dinasti daulah Ibn Bawaih tahun 371 H di Bagdad.
Ketika grand opening rumah sakit ini sudah menyiapkan dua puluh empat tenaga dokter kemudian bertambah seiring waktu berjalan.Dilengkapi dengan perpustakaan (Maktabah), apotek (Khazanah Syarab, Al Syaranjaanah atau Shoidaliyah), dapur (Mathbah) dengan beberapa karyawan (Muwadhaf).Setiap dokter bergilir piket setiap malam karena rumah sakit ini buka dua puluh empat jam.
Rumah Sakit Marakis (Al Mustasyfa’a Al Marakisy) yang di bangun pada masa Al Mansur Abu Yusuf Ya’qub, beliau raja daulah Al Muwahhidin tahun 580H-595H di Magrib (sekarang Maroko di Afrika).
Rumah sakit ini termasuk rumah sakit terindah di zaman nya, dengan taman-taman bunga yang warna warni, pepohonan yang hijau penuh daun, danau-danau buatan yang lebih membuat nyaman pasien maupun tenaga medis dan para masiswa yang belajar didalam nya.dari segi pelayanan kesehatan sangat baik dengan SDM para dokter yang mumpuni, perawat yang trampil serta obat-obatan yang lengkap.
Masa daulah Mamalik Bahriyah, tepatnya masa raja Al Mansur Saifuddin Qalawun di Kairo, dibangunlah rumah sakit besar Al Mansuri ( Al Mustasyfa’a Al Mansuri Al Kabir) tahun 683 H.Rumah sakit ini sangat asri dan ditangani oleh tenaga dokter profesional sehingga tidak aneh lagi dalam sehari jumlah pasien yang di tangani mencapai empat ribu pasien.
Di rumah sakit ini terkenal dengan dokter bernama Al ‘Arif Billah Al ‘Alamah ‘Alaudin Ali Bin Abi Al Hazm Bin Al Nafis Al Qurasy atau terkenal dengan sebutan Ibn Nafis dan Ibn Sina baru karena ke ilmuan nya yang melebihi Ibn Sina.
Beliau selain menjadi direktur di rumah sakit ini beliau juga mencurahkan semua ilmunya dan tenaganya terhadap rumah sakit ini sampai rumah, buku-buku di wakafkan nya sehingga rumah sakit ini terkenal tidak hanya dari segi bidang pelayanan medis nya tapi terkenal pula dengan sebutan Khajinul ‘Ulum (gudangnya ilmu pengetahuan) yaitu sebagai lembaga pendidikan dan peraktek dokter-dokter muda.
Rumah Sakit ‘Al ‘Atiq yang dibangun oleh Ahmad Bin Thulun tahun 254H-270H dari daulah Thuluniyah, rumah sakit ini sifatnya umum dengan membuka semua spesialisasi termasuk perawatan dan pengobatan orang-orang gila.
Ibn Thulun secara pribadi rutin mengunjungi rumah sakit ini terutama bagian yang menangani penyakit gila setiap pagi pada hari Jum’at.
Rumah Sakit Al Nuri di Damaskus yang dibangun oleh Sultan Nuruddin Mahmud Al Syahid pada tahun 549 H, karena ke isimewaan dan kelengkapan serta di dukung para medis yang tangguh rumah sakit ini bisa bertahan sangat lama sampai tahun 1328 H atau 1899 M, luar biasa sampai delapan ratus tahun lamanya membantu ummat dalam bidang pelayanan kesehatan, Allahu Akbar….
Insya Allah kita lanjutkan dengan pembahasan pandangan Islam terhadap pasien yang membutuhkan perawatan dan bagaimana setelah pasien sembuh?pada artikel selanjutnya kita akan membahasnya, Insya Allah.
Daftar pustaka:
1.Tafsir Qurthubi lih www.al-islam.com
2.Tafsir Thabari lih www.al-islam.com
3.Fathul Bari Syarh Shohih Bukhari, Ibn Hajar Al Asqolani lih www.al-islam.com
4.Syarh Shohih Muslim Li Nawawi lih www.al-islam.com
5.Maushu’ah Hadarah, Majalis Al ‘A’la Li Suun Al Islamiyah, Kairo Mesir
6.Al Mujiz Fi Tibb Li Ibn Nafis, Majlis Al ‘Ala Li Suun Al Islamiyah, Kairo Mesi,Wujaroh Auqaf Mesir
7.Al Musu’ah al Muyasarah Fi Tarikh Al Islami, Muasasah Iqra kairo Mesir
8.Fi al Tib Al Islami, makalah Dr Ibrahim Murad
9.Tib Al Nabawi, Syamsuddin Abi Abdillah Bin Qoyyim terkenal dengan Ibn Qoyyim lih www.al-eman.com
10.Al Tibyan edisi 13 , 14 dan 15 tahun ke 2 di keluarkan oleh Jamiyah Syar’iyah kairo Mesir
11.Muqodimah Ibn Khaldun, Dar Hadist Kairo mesir
12.Thabaqot Al Atibaa, Ahmad Bin Al Qosim Bin Khalifah Bin Yunus Abul Abas yang terkenal dengan Ibn Abi Usaibah, lih www.al-eman.com