Archive for September, 2006

Berpuasalah Niscaya Kamu Sehat

Thursday, September 14th, 2006
Berpuasalah Niscaya Kamu Sehat
Tela’ah Atas Status Hadist
Oleh:Mang Bieru
Bulan Ramadhan, bulan sangat mulia bagi kaum Muslimin, semarak menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang bernafaskan ibadah baik secara perorangan maupun secara berkelompok atau lembaga kemasarakatan.
Jam terbang para Da’i dan Mubaligh semakin padat begitu juga yang sifatnya karbitan seperti artis yang menyulap diri sebagai Ustadz dan penceramah ataupun tokoh politik yang semua engusap-usap berlembar-lembar rupiah yang secara tiba-tiba bersorban dan berceramah.Semua sibuk, semua padat waktu dan semua kena sebautan ‘jarum" alias jarang di rumah.
Itu semua positif jika di barengin dengan niatan ihklas dan di bekali isi ilmu kegamaan sehingga masyarakat menyimaknya dengan penuh penghayatan dan pengamalan bukan seperti menonton lawak, penuh canda tawa yang ada kepuasan lahir berupa fresh dari penat-penat masalah seharian bekerja dan tuntutan materi lainya.
Nah hampir tiap tahun atau bisa dikatakan tiap tahun para Da’i dan penceramah kita sering menyampaikan hadist berbunyi :" Puasalah kamu nisacaya kamu sehat",yang jadi di kekurangan kita adalah justru kita seperti gayung bersambut dengan menyampaikan lagi ke orang lain tanpa kita merenungkan apakah hadist ini statusnya shohih atau dhoif.
Baiklah kita tengok sekarang bagaimana hadist terkenal ini dari segi statusnya bukan dari segi makna hadist, karena kita sudah pada tau bahwa puasa mendukung terhadap upaya seseorang mempertahankan kesehatan walapun tidak semua terobati atau terkurangi dengan puasa, justru pada saat-saat tertentu di anjurkan untuk tidak puasa seperti firman Allah Swt dalam surah Al Baqoroh 184 dan 185.
Berpuasalah niscaya kamu sehat ( suumuu tasihhuu ), hadist ini banyak diantara para sahabat yang meriwayatkan nya seperti Abu Hurairah Ra, Ali Bin Abi Thalib Ra dan Ibn Abbas Ra.
Hadist tersebut di muat di kitab-kitab Imam Ahmad di Musnadnya 5/364 dari Abu Hurairah, dan Imam Tirmidi di Sunan nya 3/118 dari hadist Rafi Bin Khudaij RA, Lih Maqosid Hasanah hal 318, kitab Tamayuz Al khabis Min Al Thayyib Hal 88, kitab Asnaa Al matholib hal 167 dan Majma Al Zawaid Wa Manba’ Al fawaid 3/179.
Pertama:Abu hurairah RA yang di keluarkan hadistnya oleh Al Aqili Fi Dhu’afaa Jilid 2 halaman 92 dalam profil nya Zahir Bin Muhammad Al Tamimi, Imam Thabrani Fi Al Ausath Jilid 8 Halaman 213 nomor 8312 dari jalan Zahir Bin Muhammad dari Suhail Bin Abi Sholih dari bapaknya, dari Abi Hurairah Ra dengan teks "Berperanglah niscaya kamu mendapat gonimah, berpuasalah niscaya kamu sehat dan berpergianlan niscaya kamu beruntung". Al Aqili mengomentari nya "tidak ada yg lain mengikuti hadist tersebut kecuali dari arah yg di dalamnya ada kelemahan". Imam Thabrani berkata: hadist tersebut tidak ada lagi yang meriwayatkan dgn teks spt itu kecuali hanya Zahir Bin Muhammad.
Kedua:Ali Bin Abi Thalib Ra , yang di keluarkan hadistnya oleh Ibn `Adi fi Al kamil 2/357 dari jalan Husain Bin Abdullah Bin Dhomirah Bin Abi Dhamirah dari bapaknya dari kakeknya dari Ali Bin Abi Thalib Ra berkatalah Rosulullah:" Berpuasalah nisacaya kamu sehat" dengan sanadnya yang "talafa"(rusak), karena Husain seorang yg matruk ( tidak diterima ) hadistnya sebagaimana di katakan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai dan yg lainya, begitu juga Imam Bukhari mengatakan bahwa Husain munkarul hadist sebagaimana hal itu di ungkapkan oleh Ibn `Adi sendiri.
Ketiga:Ibn Abbas Ra yang di keluarkan hadistnya oleh Ibn `Adi fi Al Kamil 7/57 dari jalan Nasyhal Bin Said dari Al Dhohak dari Ibn Abbas Ra, beliau berkata:bersabdalah Rosululah Saw:" Berpergianlah kamu niscaya kamu sehat dan berpuasalah nisacaya kamu sehat dan berperanglah niscaya beruntung".
Sanadnya dhoif jika tidak ya maudhu(palsu) karena sebagaimana kata Ibn Rawaihah bahwa Nasyhal Bin Said itu pembohong dan menurut Imam Nasai Nasyhal Bin Said matrukul hadist (hadistnya tertolak)
Beberapa ulama memberikan status dhoif terhadap hadist tersebut seperti terlihat dalam kitab Tahrij Al Ihya li’Iraqi 3/75, Al Kaamil Fi Dhu’afa’a Al Rijaal Li Ibn ‘Adi 2/357, Kitab Al Syudzrah Fi Al Ahaadist Al Musytahirah Li Ibn Thulun 1/479, Kitab Al Fawaid Al Majmu’ah Fi Al Ahaadist Al Maudhu’ah Li Syaukani 1/259, Kitab Al Maqosid Al Hasanah Li Sakhawi 1/549, Kitab Kasyf Al Khafaa Li Ajluni 2/539, Kitab Silsilah Al Ahaadist Al Dhaifah Wa Al Maudzu’ah Li Al Bani 1/420.
Harus bagaimana kita bersikap?syekh Sholih Bin Fuzan Al Fauzan dalam mengomentari hadist tersebut beliau bertutur:" Walapaun sanadnya tidak ada yg kuat akan tetapi makna nya benar karena puasa memberikan kesehatan terhadap tubuh begitu juga dgn puasa mencegah berampur aduknya makanan yang menyebabkan penyakit.
Jadi berpuasanya semata-mata niat kewajiban dan mengharap ke ridho’an dari Allah Swt sehingga benar-benar khusyu’ , kalaupun ada indikasi kesehatanya itu adalah hikmah dari menjalankan ibadah puasa, sebaliknya kalau berpuasa niat nya untuk sehat tapi ternyata belum di beri kesehatan akhirnya kekecewa-an  yang di dapat.
Dalam melaksanakan ibadah -termasuk ibadah puasa-seseorang tergantung dengan niatnya sebagaimana di kemukakan dalam Qoidah Fiqhiyah " La Sawaba Illa Biniyah " yang makna nya tidak ada perbuatan amal ibadah seseorang itu mendapat pahala atau dosa kecuali sesuai niatnya, ini sejalan dengan hadist Nabi Inamal A’malu Biniyah …( Bukhari Muslim ).
Semoga bulan Ramadhan tahun ini lebih bermakna dan meningkat di banding tahun-tahun sebelumnya, amin amin.Kamis 21 Sya’ban 1427 H / 14 September 2006 M
Di olah dari berbagai sumber
http://www.islamtoday.net/questions/show_question_content.cfm?id=635
http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=338344
http://www.amaneena.com/m/saumnes.htm
http://www.al-eman.com/Islamlib/viewchp.asp?BID=143&CID=39
http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&iw_a=view&fatwa_id=4458
http://www.majdah.com/vb/showthread.php?t=11285

Rumah Sakit Dalam Islam

Monday, September 11th, 2006
Rumah Sakit Islam Masa Kemajuan
Seiring dengan gerakan penerjemahan karya-karya barat dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang kedokteran pada abad ke 2 Hijriyah atau lebih tepatnya pada masa Harun Arasyid dari dinasti Abbasiyah tahun 170 H sampai 193H dengan membangun lembaga ilmu pengetahuan Baitul Hikmah yang lebih maju lagi ketika anak nya beliau menjadi khalifah yaitu Al Makmun tahun 198 H sampai 218 H.
Kemajuan bidang kedokteran pada masa ini di tandai dengan munculnya karya-karya kedokteran dalam bahasa Arab dari hasil olah fikir para ulama atas karya-karya Yunani dan perdaban lainya yang masuk dalam futuhat islamiyah, sehingga berdirilah rumah sakit- rumah sakit modern dengan sekaligus perpustakaan dan tempat pendidikan kedokteran yang menjadi satu dalam lingkungan rumah sakit, sungguh sebuah karya yang luar biasa besar bagi perdaban manusia yang mana saat itu Eropa dalam ke gelapan dan kemunduran, Subhanallah.
Baiklah kita mencoba untuk mengenal rumah sakit- rumah sakit Islam modern pada masa-masa ke emasan Islam ini walapaun secara garis besar bukan secara utuh semua rumah sakit Islam yang ada ketika itu..
Dengan mengetahui peradaban Islam dalam bidang kesehatan semoga  kita lebih percaya diri lagi bahwa Islam benar-benar sebagai agama rahmat dan pembawa keselamatan dengan perhatian nya yang sangat besar terhadap kesehatan fisik maupun mental spiritual.
Rumah sakit dalam Islam secara garis besar terbagi ke dalam dua jenis yaitu rumah sakit yang tidak permanen dengan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainya (Al Mustasyfa’a Al Muntaqil) atau sekarang lebih terkenal dengan sebutan rumah sakit lapangan.
Pada masa kepemimpinan Al Muqtadir Billah, seorang khalifah dinasti Abbasiyah yang ke delapan belas tahun 295 H-320H, masa ini ada yang bernama Tsabit Bin Sanan Bin Tsabit Bin Qurrah, beliau seorang dokter dan cucu dari tokoh dokter terkemuka di Bagdad yang menjadi staff ahli Baitul Hikmah waktu itu yaitu Tsabit Bin Qurrah.
Tsabit Bin Sanan Bin Tsabit Bin Qurrah mengajukan proposal kepada Al Muqtadir agar menyediakan para dokter, perawat, peralatan medis, tenda-tenda, obat-obatan dan logistik untuk berkelana ke setiap penjuru negri mengobati orang-orang yang sakit, mulai dari kota ke kota, lembah ke lambah sampai ke pegunungan yang di huni orang-orang Badwi.
Rumah sakit lapangan yang lebih besar lagi pada masa kepemimpinan raja Sultan Mahmud Al Saljuqy tahun 511 H-525 H, beliau seorang khalifah dari dinasi Daulah Saljuqiyah.
Pada masa ini dengan peralatan medis lebih lengkap, para dokter lebih profesional dan para perawat lebih terampil serta obat-obat-an lebih lengkap, berkeliling negri negri dengan menggunakan empat puluh ekor unta sebagai alat kendaraan, singgah di suatu kota untuk mengobati orang-orang sakit kemudian berpindah ke kota lainya, dari satu lembah ke lembah lainya, tanpa membedakan mana kaya atau miskin, Muslim atau Kfir.Subhanallah luar biasa agung nya.
Dengan kaca mata sekarang mungkin copy-an rumah sakit lapangan itu dengan memakai ambulan-ambulan, pesawat terbang, kapal laut dan box-bok kontener yang di sulap jadi rumah sakit jalan.Apakah ummat Islam sekarang tidak mampu? sungguh mampu asalkan ada kemauan keras serta kerja keras di sokong dengan dana infak, sodaqoh dan zakat yang memadai, karena zaman ke emasan Islam pun sokongan dana tercesar adalah dari infaq sodaqoh dan sumbangan dermawan.
Rumah sakit dalam Islam model kedua adalah rumah sakit permanen (Al Mustasyfa’a Al Tsabit), rumah sakit ini di bangun di kota- kota dan daerah-daerah seperti nanti akan di ceritakan.
Rumah Sakit Al ‘Adhy (Al Mustasyfa’a Al ‘Adhy) yang di bangun pada masa dinasti daulah Ibn Bawaih tahun 371 H di Bagdad.
Ketika grand opening rumah sakit ini sudah menyiapkan dua puluh empat tenaga dokter kemudian bertambah seiring waktu berjalan.Dilengkapi dengan perpustakaan (Maktabah), apotek (Khazanah Syarab, Al Syaranjaanah atau Shoidaliyah), dapur (Mathbah) dengan beberapa karyawan (Muwadhaf).Setiap dokter bergilir piket setiap malam karena rumah sakit ini buka dua puluh empat jam.
Rumah Sakit Marakis (Al Mustasyfa’a Al Marakisy) yang di bangun pada masa Al Mansur Abu Yusuf Ya’qub, beliau raja daulah Al Muwahhidin tahun 580H-595H di Magrib (sekarang Maroko di Afrika).
Rumah sakit ini termasuk rumah sakit terindah di zaman nya, dengan taman-taman bunga yang warna warni, pepohonan yang hijau penuh daun, danau-danau buatan yang lebih membuat nyaman pasien maupun tenaga medis dan para masiswa yang belajar didalam nya.dari segi pelayanan kesehatan sangat baik dengan SDM para dokter yang mumpuni, perawat yang trampil serta obat-obatan yang lengkap.
Masa daulah Mamalik Bahriyah, tepatnya masa raja Al Mansur Saifuddin Qalawun di Kairo, dibangunlah rumah sakit besar Al Mansuri ( Al Mustasyfa’a Al Mansuri Al Kabir) tahun 683 H.Rumah sakit ini sangat asri dan ditangani oleh tenaga dokter profesional sehingga tidak aneh lagi dalam sehari jumlah pasien yang di tangani mencapai empat ribu pasien.
Di rumah sakit ini terkenal dengan dokter bernama Al ‘Arif Billah Al ‘Alamah ‘Alaudin Ali Bin Abi Al Hazm Bin Al Nafis Al Qurasy atau terkenal dengan sebutan Ibn Nafis dan Ibn Sina baru karena ke ilmuan nya yang melebihi Ibn Sina.
Beliau selain menjadi direktur di rumah sakit ini beliau juga mencurahkan semua ilmunya dan tenaganya terhadap rumah sakit ini sampai rumah, buku-buku di wakafkan nya sehingga rumah sakit ini terkenal tidak hanya dari segi bidang pelayanan medis nya tapi terkenal pula dengan sebutan Khajinul ‘Ulum (gudangnya ilmu pengetahuan) yaitu sebagai lembaga pendidikan dan peraktek dokter-dokter muda.
Rumah Sakit ‘Al ‘Atiq yang dibangun oleh Ahmad Bin Thulun tahun 254H-270H dari daulah Thuluniyah, rumah sakit ini sifatnya umum dengan membuka semua spesialisasi termasuk perawatan dan pengobatan orang-orang gila.
Ibn Thulun secara pribadi rutin mengunjungi rumah sakit ini terutama bagian yang menangani penyakit gila setiap pagi pada hari Jum’at.
Rumah Sakit Al Nuri di Damaskus yang dibangun oleh Sultan Nuruddin Mahmud Al Syahid pada tahun 549 H, karena ke isimewaan dan kelengkapan serta di dukung para medis yang tangguh rumah sakit ini bisa bertahan sangat lama sampai tahun 1328 H atau 1899 M, luar biasa sampai delapan ratus tahun lamanya membantu ummat dalam bidang pelayanan kesehatan, Allahu Akbar….
Insya Allah kita lanjutkan dengan pembahasan pandangan Islam terhadap pasien yang membutuhkan perawatan dan bagaimana setelah pasien sembuh?pada artikel selanjutnya kita akan membahasnya, Insya Allah.
Daftar pustaka:
1.Tafsir Qurthubi lih www.al-islam.com
2.Tafsir Thabari lih www.al-islam.com
3.Fathul Bari Syarh Shohih Bukhari, Ibn Hajar Al Asqolani lih www.al-islam.com
4.Syarh Shohih Muslim Li Nawawi lih www.al-islam.com
5.Maushu’ah Hadarah, Majalis Al ‘A’la Li Suun Al Islamiyah, Kairo Mesir
6.Al Mujiz Fi Tibb Li Ibn Nafis, Majlis Al ‘Ala Li Suun Al Islamiyah, Kairo Mesi,Wujaroh Auqaf Mesir
7.Al Musu’ah al Muyasarah Fi Tarikh Al Islami, Muasasah Iqra kairo Mesir
8.Fi al Tib Al Islami, makalah Dr Ibrahim Murad
9.Tib Al Nabawi, Syamsuddin Abi Abdillah Bin Qoyyim terkenal dengan Ibn Qoyyim lih www.al-eman.com
10.Al Tibyan edisi 13 , 14 dan 15 tahun ke 2 di keluarkan oleh Jamiyah Syar’iyah kairo Mesir
11.Muqodimah Ibn Khaldun, Dar Hadist Kairo mesir
12.Thabaqot Al Atibaa, Ahmad Bin Al Qosim Bin Khalifah Bin Yunus Abul Abas yang terkenal dengan Ibn Abi Usaibah, lih www.al-eman.com