Rumah Sakit Islam ( Bagian Kedua )
Rumah Sakit Islam Masa Kedua
Abd Malik Bin Marwan tahun 65 H naik tahta, walapun pada masa ini situasi politik tidak menentu dengan terjadinya penyerangan oleh pejabat Abdul Malik Bin Mawran yaitu Al Hujaj Bin Yusuf Al Tsaqafi, Gubernur Iraq terhadap Abdullah Bin Zubair di Makkah sehingga sebagian dinding Ka’bah rusak kena lemparan batu, kudeta Al Tawabin, kudeta Khawariz dan lain-lain.
Nah walapun situasi politik seperti itu Abd Malik Bin Marwan lewat Kahlid Bin Yazid Bin Muawiyah (wafat 85 H ) beliau tetap memperhatikan perkembangan masalah kesehatan dan mempelopori nya walapun masih terbatas, mereka termasuk orang-orang pertama bersama Marwan Bin Hakam di dinasi Umayyah yang memperhatikan masalah kesehatan dengan bergaul dan merespon nasehat-nasehat dokter pada masa itu serta menerjemahkan karya-karya Yunani dalam bidang Kimia dan kedokteran yang terdapat di perpustakaan Alexandria Mesir.Adapun dokter-dokter pada masa itu, seperti:
Pertama:Tiyaduq (wafat sekitar tahun 90 H bertepatan 709 M) yang sekaligus sebagai pendamping Gubernur Iraq Al Hujaj Bin Yusuf Al Tsaqafi.
Kedua Taudun, beliau mengarang mengenai kedokteran dan di persembahkan kepada anaknya, dua dokter ini asalnya Nasrani.
Ketiga dan yang paling terkenal adalah Masarjuwaih atau Masarjis aslinya seorang Yahudi, hidup di abad awal Masehi pada masa Khalifah Marwan Bin Hakam tahun 64 H bertepatan 684 M sampai 65 H betepatan 685 M dengar karangan dalam bidang kedokteran, diantaranya Kitab Qawy Al Ath’imah Wa Manafi’uha Wa Madhoruha.
Dalam bentuk terjemahan yaitu kitab Al Kannasy dari bahasa aslinya Yunani oleh seorang dokter Alexsandria yang hidup pada masa Rosulullah Saw yang bernama Ahrun Al Qas, oleh Masarjawaih di terjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Khalifah Marwan Bin Hakam menjadi 30 makalah dan beliau tambah 2 makalah lagi sehingga menjadi 32 makalah.
Perkembangan berikutnya setelah Al walid Bin Abd Malik naik tahta tahun 86 H, tidak lama setelah nya, beliau membangun Rumah Sakit Islam yang resmi sebagaimana layaknya Rumah Sakit pada tahun 88 H bertetapatan 706 M, beliau seorang Khalifah ke 6 dari dinasti Bani Umayyah.
Awalnya, rumah sakit bernama Bimaristan bukan Mustasyfaa’ yang bermakna tempat penyembuhan seperti yang di kenal belakangan.Kata itu di ambil dari bahasa Persia yang artinya rumah sakit bagi orang gila atau rumah sakit jiwa.Nah nama itu tetap di pakai sampai mencapai perkembangan puncaknya nanti dengan melengkapi unit-unit pendukung yang lengkap pada masa dinansti Abbasiah, jadi tidak hanya terbatas pada penanganan penyakit jiwa saja.
Pada masa ini Rumah Sakit lebih menitik beratkan kepada dua macam penyakit yang memang mewabah, seperti:
Pertama: penanganan penyakit Lepra ( Majdhumin ) dengan menyediakan konsumsi dan tempat khusus bagi penderita.
Kedua: penanganan penyakit kebutaan ( ‘Amiyyin ), sama seeprti penanganan penyakit lepra dalam fasilitasnya.
Al Walid Bin Abd Malik sebagai Khalifah memberikan anggaran untuk Rumah Sakit ini di ambil dari keuangan negara dan dari wakaf-wakaf dermawan meliputi makanan pasien, obat-obatan termasuk gaji para dokter dan perawat serta karyawan nya.
Hm.mm mungkin di benak kita ada pertanyaan, "Mengapa pada masa dinasti Umayyah tinggkat gerakan penerjemahan karya-karya asing kurang begitu bergema dan berkembang seperti pada masa dinasti Abbasiah sehingga mempengaruhi perkembangan dalam bidang pelayanan kesehatan?".
Untuk menjawab hal itu kita patut mengambil komentar dari Ibn Khaldun, beliau bertutur" paling tidak ada dua hal penting mengapa gerakan penerjamahan pada masa Umayyah kurang gereget jika di banding dengan masa Abbasiah.Pertama karena pejabat Umayyah kurang sreg dengan yang berbau asing dan menentang orang asingdan, kedua fanatisme ke arab-an nya lebih kental.Walapun seperti itu tidak menutup peran munculnya sebagian gerakan penerjemahan dan para dokter yang berkiprah melayani orang-orang sakit seperti yang telah di bahas di atas.
Rumah Sakit Islam Modern, Bagian ke tiga nanti