Archive for April, 2006

Ibunya Para Syuhada

Saturday, April 29th, 2006

Palestina Ummu Nidhol, beliau lah ibunya para Syuhada.Seorang Da’iyah yang sukses mengabdikan diri selama 25 tahun berdakwah dalam Mesjid, menjadikan rumah nya sebagai pusat pendidikan bagi para keluarga, gadis-gadis remaja dan para pemuda pengemban Jihad di negri para Nabi yaitu Palestina.

Bagaimana kiat sukses beliau? bagaimana cita-cita dan harapan nya terhadap kaum sejenisnya?.

2 Ikutilah petikan hiwar(wawancara) antara beliau dan Wafa’ Sa’dawy dari Al Tibyan, di terjemahin oleh Si Jim n Bieru dari Al Tibyan edisi ke 18, tahun ke 2, Muharram 1427 H, Februari 2006.

Semoga pembaca bisa mengambil hikmah nya dan bisa menjadikan semangat untuk lebih serius membangun ummat sesuai situasi dan kondisi yang di hadapi masing-masing lingkungan nya, Insyallah.

Wafa’ Sa’dawy : Sebelum lebih lanjut, kami ingin mengenal ibu terlebih dahulu.

Ummu Nidhol :Nama saya Maryam Muhammad Farhat, umur 56 tahun, janda dan seorang ibu dari 6 anak laki-laki serta 4 anak perempuan, tinggal di Gaza.

Semua anak laki-laki saya aktif di "Kataib Al Qosam", tiga diantaranya telah syahid yaitu Nidhol, Farhat dan Muhammad.

Wafa’ Sa’dawy :Apa tantangan-tantangan yang ibu hadapi selama perjalanan Dakwah dan Jihad?

Ummu Nidhol :Saya hidup dalam keluarga yang berpegang dengan adat dan agama akan tetapi dalam masalah agam belum pada tahap istiqomah seperti melaksakan sholat tapi belum berhijab.

Bulan-bulan pertama setelah pernikahanku, mulailah saya mengikuti pengajian husu wanita di Mesjid yang di bawakan oleh Syekh Ya’qub Abu Kuwaik, melalui beliau lah Allah SWT menunjukan saya ke jalan yang selama ini jauh saya lalui.

Secara bertahap keimanan dan ke istiqomahan ku meningkat, mulailah saya memakai Hijab meskipun tantangan-tantangan yang saya hadapi dari suami.Banyak kurasakan kepedihan karena permasalahan Hijab dan ke Istiqomahan merupakan dua hal yang aneh dalam lingkungan keluargaku selama masa 35 tahun sampai beberapa kali saya kena ancaman thalak, semua saya hadapi dengan kesabaran dan kekuatan, tetap memakai hijab, istiqomah dan mendidik anak dengan pendidikan yang islami.

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu menumbuhkan ajaran Jihad kepada anak-anak?

Ummu Nidhol : Sejak saya mengenal ke Istiqomahan tertanamlah dalam jiwa saya sebuah niatan untuk membina rumah dan keluarga islami yang semuanya di curahkan untuk Islam.

Sebelum gerakan Intifadhah dan Hamas muncul ke permukaan, saya sudah mendorong anak-anak untuk memahami ajaran agama Islam dengan pemahaman yang benar sehingga ketika tiba waktu kemerdekaan Al Quds mereka termasuk pelopornya.

Semua ini saya lakukan semata-mata mengharap ridho dan pahala dari Allah Swt.Alhamdulilah Allah Swt mewujudkan cita-cita saya dan memberi kehormatan kepada saya di dunia ini berupa syahidnya 3 anak, anak anak perempuan dan keluarga mereka tekun dan taat kepada ajaran Islam serta suami saya sebelum wafatnya alhamdulilah beritiqomah dalam islam.

Wafa’ Sa’dawy : Apa sebab-sebab terpenting sehingga ibu sukses seperti ini?

Ummu Nidhol: Seorang ibu merupakan Madrasah(tempat pendidikan) pertama bagi anak-anak nya, janganlah menunggu arahan dan himbauan dari yang lainya.Ibu-lah yang menjadi sebab penting dalam mencetak generasi penerus yang sukses sesuai dengan peran nya yang pokok dalam mendidik dan meberi pemahaman kepada anak-anak tentang agama sampai mereka tahu kewajiban seperti wajibnya Jihad, terutama untuk kasus palestina hukumnya wajib ‘ain.

Sejak masa awal perkebangan anak, saya tanamkan dalam diri mereka kecintaan dan kewajiban tentang jihad, latihan berbuat baik, besarnya tanggung jawab yang berkaitan dengan kejadian-kejadian dilapangan, nasehat-nasehat yang berupa anjuran dan larangan serta mengikutsertakan mereka dalam ibadah sehari-hari, seperti sholat malam, sholat fajar dan sholat duha.Selepas sholat saya berikan tausiah kepada mereka sehingga ketika menginjak usia syahab(dewasa) sudah tertanam kecintaan kepada jihad.

Sebab-sebab lain merupakan pelengkap dan pembantu seperti Mesjid, teman yang baik, kelompok teman berkumpul.Mereka memilih kelompok jihad islami karena Hamas belum berdiri, setelah Hamas berdiri mereka bergabung dengan Hamas melalui ‘Kataib Al Qosam" sampai rumah saya di jadikan oleh mereka sebagai tempat berkumpul.

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu mengatur antara kewajiban seorang ibu rumah tangga dan seorang aktifis di luar rumah?

Ummu Nidhol : Sesuai dengan urutan kepentingan nya, kemampuan mengatur waktu sangat membantu kita mencapai kesuksesan yang besar dan utama.Nah untuk mencapai sebuah tujuan kita harus korbankan kepentingan pribadi.

Wafa’ Sa’dawy : Apa faktor yang mendorong Hamas mengikuti pemilihan umum?

Ummu Nidhol : Iya, Hamas baru pertama kali mengikuti pemilihan umum, kita sebagai rakyat punya harapan kepada pemerintah agar tidak sendiri dalam menentukan aturan-aturan dan hukum-hukum.

Alhamdulillah pemilihan umum sukses dan sambutan rakyat luar biasa, mereka mengharapkan kepada kita agar bisa memperbaiki kerusakan dalam pemerintah sehingga ada perubahan dari realitas yang tidak baik ke arah yang lebih baik dalam semua segi kehidupan.

Wafa’ Sa’dawy : Dengan mengikuti pemilihan umum tentunya ada pengaruh-negatif- terhadap gerakan jihad, bagaimana pendapat ibu?

Ummu Nidhol : Peran politik tidak bisa di pisahkan dari gerakan jihad, satu sama lain saling menyempurnakan karena gerakan jihad butuh dukungan politik.

Wafa’ Sa’dawy : Ibu adalah perempuan pertama yang di calonkan oleh Hamas untuk DPR, apakah ini sebagai penghormatan kepada ibu karena posisi ibu seorang "ummu Syuhada" ataukah hanya sebagai upaya Hamas kedunia luar untuk menunjukan bahwa ada perkembangan perubahan pemikiran dalam tubuh hamas?

Ummu Nidhol : saya yakin hal ini karena pentingnya peranan wanita.

Wafa’ Sa’dawy : Dibawah penguasa penjajah tentunya semua tingkatan dalam bangsa Palestina kondisinya tidak lah mendukung, apa kiranya yang akan dilakukan hamas?

Ummu Nidhol : Kondisi negara terjajah bukanlah suatau masalah maksudnya tantangan karena kondisi-kondisi yang telah di lewati bangsa Palestina memberi pelajaran kepada kita bagaimana cara mengahadapi situasi tersulit.Aktifitas politik tidaklah sesulit melawan penjajah.

Wafa’ Sa’dawy : Dalam situasi yang penuh penderitaan seperti sekarang, apa yang akan di lakukan oleh perempuan Palestina di DPR?

Ummu Nidhol : Mencurahkan semua kemampuan dengan penuh optimis dan kebulatan tekad.Perempuan Palestina tidaklah lemah dalam segi kemampuan, mereka punya rasa optimis dan perencanaan yang siap mengemban tanggung jawab dalam situasi serba sulit dan tak mendukung.Aktifitas politik tidaklah sesulit mengahadapi penjajah.

Wafa’ Sa’dawy : Dalam pemilu di setiap wilayah terutama di Tepi, calon-calon dari Hamas sukses dengan kemenangan mutlak menyisihkan pesaing yang lainya, apakah kesuksesan ini kerena adanya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh gerakan "Fath"?

Ummu Nidhol : Oh tidak, tetapi karena kepercayaan masyarakat dan apa yang mereka rasakan dan persahabatan dalam aktifitas Hamas, inilah sebab utama sehingga kami menang mutlak.

Wafa’ Sa’dawy : Apakah sesuai dengan perkiraan ibu sebelumnya?

Ummu Nidhol : Iya

Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana sikap masyarakat atas kemenangan Hamas?

Ummu Nidhol : sambutan yang hangat

Wafa’ Sa’dawy : Pesan ibu untuk kaum muslimah di dunia.

Ummu Nidhol : Kesadaran merupakan fenomena yang baik yang di bangun dengan keseriusan dan tidak merasa hina dengan melakukan hal tersebut.

Kami menginginkan agar kaum muslimah di seluruh dunia untuk lebih mencurahkan kesungguhan nya yang lebih besar lagi dalam menghadapi realitas yang pahit dan kesusahan yang menyeluruh.

Siapa dia

Saturday, April 29th, 2006

Bieru Banyak yang bertanya yang di blog ini poto siapa? semua mengira itu adalah poto anak ku-saya belom punya anak-.Itu namanya "Aul’ keponan ku, putri pertama dari ‘Mbak Reni", dia temanku, sahabatku dan saudaraku.

Semoga panjang umur, banyak rejeki, jauh dari penyakit, pinter, sholehah dan sayang ama kedua orang tua dan keluarga.Amin

Kapan-kapan ketemu Om bawain ‘boneka onta’ heuheuheu, tenang aja Omm tidak seperti onta jadi jangan takut yak!

Dari si Om

J-im

Nasi Kedelai

Wednesday, April 19th, 2006

Kedelai Nasi Kedelai

Om ngak ada nafsu makan nih? Oh…gampang, coba saja variasi dalam memasak makanan beratnya terutama nasi agar selalu menarik dan tampil penasaran bagi yang memandang atau mencium harumnya.

Nah, sekarang Om kasih cara buat nasi kedelai.Pertama beras secukupnya,kedua kedelai dua atau tiga sendok setelah di cuci bersih, ketika daun salam dua lembar, keempat garam dan bumbu atom, bagi yang suak warna tambah saja warna kuning dari kunyit.

semua di satukan dalam beras yg sudah di bilas serta siap di masak.Lebih baik masaknya pakai rice cooker agar santai gitu.

Nasi Hmm menunggu mateng, ada kegiatan penunjang yaitu membuat sayuran mentah dari Mentimun di iris-iris kecil,bawang merah, tomat, cabe bubuk, merica, garam dan kecap merk apa saja bebas.Aduk semuanya sampai rata serta jangan lupa cicipin rasanya, wow segar kan?

Buat lauk special nya ya apa saja sesuai selera, ikan, daging, telur dan lain-lain.Selamat mencoba

Zhawãhir al-Afkãr al-Muhammadiyyah ’Abra Qarn min al-Zamãn

Wednesday, April 12th, 2006

Zhawãhir al-Afkãr al-Muhammadiyyah ’Abra Qarn min al-Zamãn

Muh_trans Bahwa keberhasilan perjuangan Muhammadiyah yang berjalan hampir satu abad pada hakikatnya merupakan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri oleh seluruh warga Persyarikatan. Dengan modal keikhlasan dan kerja keras segenap anggota disertai dukungan masyarakat luas Muhammadiyah tidak kenal lelah melaksanakan misi da’wah dan tajdid dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Gerakan kemajuan tersebut ditunjukkan dalam melakukan pembaruan pemahaman Islam, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa di negeri ini.Namun disadari pula masih terdapat sejumlah masalah atau tantangan yang harus dihadapi dan memerlukan langkah-langkah strategis dalam usianya yang cukup tua itu. Perjuangan Muhammadiyah yang diwarnai dinamika pasang-surut itu tidak lain untuk mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya serta dalam rangka menyebarkan misi kerisalahan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang terhampar luas ini.

Karena itu dengan senantiasa mengharapkan ridha dan pertolongan Allah SWT Muhammadiyah dalam usia dan kiprahnya jelang satu abad ini menyampaikan pernyataan pikiran (zhawãhir al-afkãr/statement of mind) sebagai berikut:

A. Komitmen Gerakan

  1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid, berasas Islam, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sesuai jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sebagai wujud ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin. Misi kerisalahan dan kerahmatan yang diemban Muhammadiyah tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai kiprahnya dalam pengembangan amal usaha, program, dan kegiatan yang sebesar-besarnya membawa pada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
  2. Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad telah banyak mendirikan taman kana-kanak, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu, usaha ekonomi, penerbitan, dan amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga membangun masjid, mushalla, melakukan langkah-langkah da’wah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok Tanah Air. Muhammadiyah bahkan tak pernah berhenti melakukan peran-peran kebangsaan dan peran-peran kemanusiaannya dalam dinamika nasional dan global. Kiprah Muhammadiyah tersebut menunjukkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa misi gerakan Islam yang diembannya bersifat amaliah untuk kemajuan dan pencerahan yang membawa pada kemaslahatan masyarakat yang seluas-luasnya. Peran kesejarahan yang dilakukan Muhammadiyah tersebut berlangsung dalam dinamika yang beragam. Pada masa penjajahan sejak berdirinya tahun 1330 H/1912 M., Muhammadiyah mengalami cengkeraman politik kolonial sebagaimana halnya dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia saat itu, tetapi Muhammadiyah tetap berbuat tak kenal lelah untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Setelah Indonesia merdeka pada masa awal dan era Orde Lama Muhammadiyah mengalami berbagai situasi sulit akibat konflik politik nasional yang kompleks, namun Muhammadiyah tetap berkiprah dalam da’wah dan kegiatan kemasyarakatan. Pada era Orde Baru di bawah rezim kekuasaan yang melakukan depolitisasi (pengebirian politik), deideologisasi (pengebirian ideologi), dan kebijakan politik yang otoriter, Muhammadiyah juga terus berjuang mengembangkan amal usaha dan aktivitas da’wah Islam. Sedangkan pada masa reformasi, Muhammadiyah memanfaatkan peluang kondisi nasional yang terbuka itu dengan melakukan revitalisasi dan peningkatan kualitas amal usaha serta aktivitas da’wahnya. Melalui kiprahnya dalam sejarah yang panjang itu Muhammadiyah telah diterima oleh masyarakat luas baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional sebagai salah satu pilar kekuatan Islam yang memberi sumbangan berharga bagi kemajuan peradaban umat manusia.
  3. Kiprah dan langkah Muhammadiyah yang penuh dinamika itu masih dirasakan belum mencapai puncak keberhasilan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya, sehingga Muhammadiyah semakin dituntut untuk meneguhkan dan merevitalisasi gerakannya ke seluruh lapangan kehidupan. Karena itu Muhammadiyah akan melaksanakan tajdid (pembaruan) dalam gerakannya sehingga di era kehidupan modern abad ke-21 yang kompleks ini sesuai dengan Keyakinan dan Kepribadiannya dapat tampil sebagai pilar kekuatan gerakan pencerahan peradaban di berbagai lingkungan kehidupan.
B. Pandangan Keagamaan

  1. Muhammadiyah dalam melakukan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan dilandasi oleh keyakinan dan pemahaman keagamaan bahwa Islam sebagai ajaran yang membawa misi kebenaran Ilahiah harus didakwahkan sehingga menjadi rahmatan lil-‘alamin di muka bumi ini. Bahwa Islam sebagai Wahyu Allah yang dibawa para Rasul hingga Rasul akhir zaman Muhammad Saw., adalah ajaran yang mengandung hidayah, penyerahan diri, rahmat, kemaslahatan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Keyakinan dan paham Islam yang fundamental itu diaktualisasikan oleh Muhammadiyah dalam bentuk gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia.
  2. Misi da’wah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal Persyarikatan ini sejak didirikannya yang dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran 104, yang artinya: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Kewajiban dan panggilan da’wah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan Khaira Ummah sekaligus dalam membangun masyarakat Islam yang ideal seperti itu sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 110, yang artinya: ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”. Dengan merujuk pada Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan multiaspek itu melalui da’wah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), sehingga umat manusia memperoleh keberuntungan lahir dan batin dalam kehidupan ini. Da’wah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
  3. Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan). Tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi), yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan Islam yang demikian Kyai Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam akidah, ibadah, dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaruan dalam amaliah mu’amalat dunyawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan. Semangat tajdid Muhammadiyah tersebut didorong antara lain oleh Sabda Nabi Muhammad s.a.w., yang artinya: ”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Karena itu melalui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang tetap kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.
  4. Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak masyarakat tengahan (ummatan wasatha) yang berkemajuan baik dalam wujud sistem nilai sosial-budaya, sistem sosial, dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, rasionalitas dan spiritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan, masyarakat Islam semacam itu selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaingan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat ”berjuang menghadapi tantangan” (al-jihad li al-muwajjahat) lebih dari sekadar ”berjuang melawan musuh” (al-jihad li al-mu’aradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah). Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhada ‘ala al-nas di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak ”madaniyah” tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai-nilai ruhani (spiritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilai-nilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normatif berperilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasi-relasi yang menjunjungtinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasad fi al-ardh), kedhaliman, dan hal-hal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan.
C. Pandangan tentang Kehidupan

  1. Muhammadiyah memandang bahwa era kehidupan umat manusia saat ini berada dalam suasana penuh paradoks. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat luar biasa dibarengi dengan berbagai dampak buruk seperti lingkungan hidup yang tercemar (polusi) dan mengalami eksploitasi besar-besaran yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, lebih jauh lagi melahirkan sekularisasi kehidupan yang menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan-keseimbangan hidup yang bersifat religius. Kemajuan kehidupan modern yang melahirkan antitesis post-modern juga diwarnai oleh kecenderungan yang bersifat serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan juga telah melahirkan corak kehidupan yang lebih egaliter dan berkeadilan secara meluas, tetapi juga membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, yang jika tanpa bingkai moral dan spiritual yang kokoh dapat merusak hubungan-hubungan manusia yang harmoni.
  2. Dalam memasuki babak baru globalisasi, selain melahirkan pola hubungan positif antarbangsa dan antarnegara yang serba melintasi, pada saat yang sama melahirkan hal-hal negatif dalam kehidupan umat manusia sedunia. Di era global ini masyarakat memiliki kecenderungan penghambaan terhadap egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasiyyah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi juga telah mendorong ekstrimisme baru berupa lahirnya fanatisma primordial agama, etnik, dan kedaerahan yang bersifat lokal sehingga membangun sekat-sekat baru dalam kehidupan. Perkembangan global pasca perang-dingin (keruntuhan Komunisme) juga ditandai dengan pesatnya pengaruh Neo-liberalisme yang semakin mengokohkan dominasi Kapitalisme yang lebih memihak kekuatan-kekuatan berjuasi sekaligus kian meminggirkan kelompok-kelompok masyarakat yang lemah (dhu’afã) dan tertindas (mustadh’afin), sehingga melahirkan ketidak-adilan global yang baru. Namun globalisasi dan alam kehidupan modern yang serba maju saat ini juga dapat dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan Islam seperti Muhammadiyah untuk memperluas solidaritas umat manusia sejagad baik sesama umat Islam (ukhuwah islamiyyah) maupun dengan kelompok lain (‘alãqah insãniyyah), yang lebih manusiawi dan berkeadaban tinggi.
  3. Karena itu Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat, bangsa, dan dunia untuk semakin berperan aktif dalam melakukan ikhtiar-ikhtiar pencerahan di berbagai lapangan dan lini kehidupan sehingga kebudayaan umat manusia di alaf baru ini menuju pada peradaban yang berkemajuan sekaligus bermoral tinggi.
D. Tanggungjawab Kebangsaan dan Kemanusiaan

  1. Muhammadiyah memandang bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah berada dalam suasana transisi yang penuh pertaruhan. Bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan krisis multiwajah akan menentukan nasib perjalanan bangsa ke depan. Masalah korupsi, kerusakan moral dan spiritual, pragmatisme perilaku politik, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, separatisme, kerusakan lingkungan, dan masalah-masalah nasional lainnya jika tidak mampu diselesaikan secara sungguh-sungguh, sistematik, dan fundamental akan semakin memperparah krisis nasional. Wabah masalah tersebut menjadi beban nasional yang semakin berat dengan timbulnya berbagai musibah dan bencana nasional seperti terjadi di Aceh, Nias, dan daerah-daerah lain yang memperlemah dayatahan bangsa. Krisis dan masalah tersebut bahkan akan semakin membebani tubuh bangsa ini jika dipertautkan dengan kondisi sumberdaya manusia, ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur nasional maupun lokal yang jauh tertinggal dari kemajuan yang dicapai bangsa lain.
  2. Bangsa Indonesia juga tengah berada dalam pertaruhan ketika berhadapan dengan perkembangan dunia yang berada dalam cengkeraman globalisasi, politik global, dan berbagai tarik-menarik kepentingan internasional yang diwarnai hegemoni dan ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan. Indonesia bahkan menjadi lahan paling subur dan tempat pembuangan limbah sangat mudah dari globalisasi dan pasar bebas yang berwatak neo-liberal. Jika tidak memiliki daya adaptasi, filter, dan integritas kepribadian yang kookoh maka bangsa ini juga akan terombang-ambing dalam hegemoni dan liberalisasi politik global yang penuh konflik dan kepentingan. Pada saat yang sama bangsa ini juga tengah berhadapan dengan relasi-relasi baru yang dibawa oleh multikulturalisme yang memerlukan orientasi kebudayaan dan tatanan sosial baru yang kokoh.
  3. Dalam menghadapi masalah dan tantangan internal maupun eksternal itu bangsa Indonesia memerlukan mobilisasi seluruh potensi dan kemampuan baik berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, modal sosial-kultural, dan berbagai dayadukung nasional yang kuat dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Dalam kondisi yang sangat penuh pertaruhan dan sarat tantangan tersebut maka sangat diperlukan kepemimpinan yang handal dan visioner baik yang didukung kemampuan masyarakat yang mandiri baik di ingkat nasional maupun lokal agar berbagai masalah, tantangn, dan potensi bangsa ini mampu dihadapi serta dikelola dengan sebaik-baiknya.
  4. Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim juga tidak lepas dari perkembangan yang dihadapi saudara-saudaranya di dunia Islam. Mayoritas dunia Islam selain dililit oleh masalah-masalah nasional masing-masing, pada saat yang sama berada dalam dominasi dan hegemoni politik Barat yang banyak merugikan kepentingan-kepentingan dunia Islam. Sementara antar dunia Islam sendiri selain tidak terdapat persatuan yang kokoh, juga masih diwarnai oleh persaingan dan konflik yang sulit dipertemukan, sehingga semakin memperlemah posisi umat Islam dalam percaturan internasional. Kendati begitu, masih terdapat secercah harapan ketika Islam mulai berkembang di neger-negeri Barat dan terjadi perkembangan alam pikiran baru yang membawa misi perdamaian, kemajuan, dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.
E. Agenda dan Langkah Ke Depan

  1. Dalam menghadapi masalah bangsa, umat Islam, dan umat manusia sedunia yang bersifat kompleks dan krusial sebagaimana digambarkan itu Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan nasional akan terus memainkan peranan sosial-keagamaannya sebagaimana selama ini dilakukan dalam perjalanan sejarahnya. Usia jelang satu abad telah menempa kematangan Muhammadiyah untuk tidak kenal lelah dalam berkiprah menjalankan misi da’wah dan tajdid untuk kemajuan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan. Jika selama ini Muhammadiyah telah menorehkan kepeloporan dalam pemurnian dan pembaruan pemikrian Islam, pengembangan pendidikan Islam, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan, serta dalam pembinaan kecerdasan dan kemajuan masyarakat; maka pada usianya jelang satu abad ini Muhammadiyah selain melakukan revitalisasi gerakannya juga berikhtiar untuk menjalankan peran-peran baru yang dipandang lebih baik dan lebih bermasalahat bagi kemajuan peradaban.
  2. Peran-peran baru sebagai wujud aktualisasi gerakan da’wah dan tajdid yang dapat dikembangkan Muhammadiyah antara lain dalam menjalankan peran politik kebangsaan guna mewujudkan reformasi nasional dan mengawal perjalanan bangsa tanpa terjebak pada politik-praktik (politik kepartaian) yang bersifat jangka pendek dan sarat konflik kepentingan. Dengan bingkai Khittah Ujung Pandang tahun 1971 dan Khittah Denpasar tahun 2002, Muhammadiyah secara proaktif menjalankan peran dalam pemberanrasan korupsi, penegakan supremasi hukum, memasyarakatkan etika berpolitik, pengembangan sumberdaya manusia, penyelamatan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, memperkokoh integrasi nasional, membangun karakter dan moral bangsa, serta peran-peran kebangsaan lainnya yang bersifat pencerahan. Muhammadiyah juga akan terus menjalankan peran dan langkah-langkah sistematik dalam mengembangkan kehidupan masyarakat madani (civil society) melalui aksi-aksi da’wah kultural yang mengrah pada pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis, otonom, berkeadilan, dan berakhlak mulia.
  3. Dalam pergaulan internasional dan dunia Islam, Muhammadiyah juga terpanggil untuk menjalankan peran global dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, adil, maju, dan berkeadaban. Muhammadiyah menyadari pengaruh kuat globalisasi dan ekspansi neo-liberal yang sangat mencengkeram perkembangan masyarakat dunia saat ini. Dalam perkembangan dunia yang sarat permasalahan dan tantangan yang kompleks di abad ke-21 itu Muhammadiyah dituntut untuk terus aktif memainkan peran kerisalahannya agar umat manusia sedunia tidak terseret pada kehancuran oleh keganasan globalisasi dan neo-liberal, pada saat yang sama dapat diarahkan menuju pada keselamatan hidup yang lebih hakiki serta memiliki peradaban yang lebih maju dan berperadaban mulia.
  4. Khusus bagi umat Islam baik di tingkat lokal, naional, maupun global Muhammadiyah dituntut untuk terus maminkan peran da’wah dan tajdid secara lebih baik sehingga kaum muslimin menjadi kekuatan penting dan menentukan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban di era modern yang penuh tantangan ini. Era kebangkitan Islam harus terus digerakkan ke arah kemajuan secara signifikan dalam berbagai bidang kehidupan umat Islam. Umat Islam harus tumbuh menjadi khaira ummah yang memiliki martabat tinggi di hadapan komunitas masyarakat lain di tingkat lokal, nasional, dan global. Di tengah dinamika umat Islam yang semacam itu Muhammadiyah harus tetap istiqamah dan terus melakukan pembaruan dalam menjalankan dan mewujudkan misi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di bumi Allah yang tercinta ini.
Demikian Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad sebagai ungkapan keyakinan, komitmen, pemikiran, sikap, dan ikhtiar mengenai kehadiran dirinya sebagai Gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid dalam memasuki usianya hampir seratus tahun. Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad tersebut menjadi bingkai dan arah bagi segenap anggota dan pimpinan Persyarikatan baik dalam menghadapi perkembangan kehidupan maupun dalam melaksanakan usaha-usaha menuju tercapainya tujuan Muhammadiyah yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Akhirnya, dengan senantiasa memohon ridha dan karunia Allah SWT., semoga kiprah Muhammadiyah di pentas sejarah ini membawa kemasalahatn bagi hidup umat manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Nashr min Allah wa fath qarib.

Mbak Bekerja..

Monday, April 3rd, 2006

Tkw Negara indonesia, itulah negri tercinta dengan segudang permasalahan yang tidak kunjung berkesudahan terutama dalam bidang lapangan kerja, ah saya sudah capek kalu nulis analisa kenapa negri se kaya indonesia tidak mampu menghidupi manusia yang berpijak di atas perut bumi indonesia.

Tidak sedikit yang mencari kehidupan ke negara luar, kenapa? ya karena sebab di atas tadi.Sungguh terharu kalau kita melihatnya dari dekat dan mau sekedar berkomunikasi dengan mereka.

Ya, kita akui yang banyak meninggalkan negri kita adalah saudara-saudara kita yang perempuan, dengan keterampilan bahkan tanpa keterampilan dan tanpa kemampuan bahasa, mereka pun berani mencari nafkah.kenapa harus wanita yang bekerja? kemana laki-laki(suami)?

Sungguh komplek permasalahan, mulai dari pemberangkatan, biro jasa tenaga kerja yang nakal, perlindungan hukum tidak ada dan lain-lain.Rasanya pulau jawa untuk menenggung beban permasalahan tenaga kerja wanita ini bakalan tenggelam karena banyaknya dan beratnya beban ini.

Terlepas semua itu, saya sedikit menguraikan niatan dan tujuan sebagian dari mereka, kenapa mencari nafkah sejauh itu.saya sebagai laki-laki ya ada rasa malu juga karena jika di bandingkan dalam masalah tanggung jawab ternyata mereka lebih besar merasakan tanggu jawab untuk menghidupi keluarganya terutama anak.

Tidak sedikit dari mereka yang janda, di daerah nya sulit cari pekerjaan.Ya jangankan janda yang berpendidikan tamatan SD atau SMP, yang sarjana saja kesulitan cari pekerjaan.Sedih emang keadaan kita.

Ketika saya tanya, "Kenapa bekerja sampai ninggalkan anak"?, Hmm saya sudah berpisah dengan suami dan punya anak satu usia SD, Kalau saya tidak bekerja bagaimana pendidikan anak saya?". Jadi dengan sekian tahun kontrak kerja dan dengan gajih sekian, cukup sebagai modal nanti di tanah air membuka usaha untuk biayayi pendidikan anak.Subhannalah!!

Saya merenung, dalam hati bertanya" dimanakah pernah si bapak terhadap anaknya?"kenapa ko semuanya di bebankan ke pihak perempuan, sudah di cerai di tambah beban berat membiayai anak".Sungguh yang luar biasa ada yang sampai membiyayai anak nya program Megister di sala satu perguruan tinggi terkenal di Jakarta.

Saya lihat keceriaan dalam wajah si mbak, dengan senyuman wajah yang sudah keriput dia menuturkan" Saya sudah lega anak saya sudah berkeluarga dan sekarang sedang menempuh Magister".Selamat mbak semoga mbak dan anak mbak sukses selalu dan selalu dalam lindungan Allah SWT Amien.