Ibunya Para Syuhada
Saturday, April 29th, 2006
Ummu Nidhol, beliau lah ibunya para Syuhada.Seorang Da’iyah yang sukses mengabdikan diri selama 25 tahun berdakwah dalam Mesjid, menjadikan rumah nya sebagai pusat pendidikan bagi para keluarga, gadis-gadis remaja dan para pemuda pengemban Jihad di negri para Nabi yaitu Palestina.
Bagaimana kiat sukses beliau? bagaimana cita-cita dan harapan nya terhadap kaum sejenisnya?.
Ikutilah petikan hiwar(wawancara) antara beliau dan Wafa’ Sa’dawy dari Al Tibyan, di terjemahin oleh Si Jim n Bieru dari Al Tibyan edisi ke 18, tahun ke 2, Muharram 1427 H, Februari 2006.
Semoga pembaca bisa mengambil hikmah nya dan bisa menjadikan semangat untuk lebih serius membangun ummat sesuai situasi dan kondisi yang di hadapi masing-masing lingkungan nya, Insyallah.
Wafa’ Sa’dawy : Sebelum lebih lanjut, kami ingin mengenal ibu terlebih dahulu.
Ummu Nidhol :Nama saya Maryam Muhammad Farhat, umur 56 tahun, janda dan seorang ibu dari 6 anak laki-laki serta 4 anak perempuan, tinggal di Gaza.
Semua anak laki-laki saya aktif di "Kataib Al Qosam", tiga diantaranya telah syahid yaitu Nidhol, Farhat dan Muhammad.
Wafa’ Sa’dawy :Apa tantangan-tantangan yang ibu hadapi selama perjalanan Dakwah dan Jihad?
Ummu Nidhol :Saya hidup dalam keluarga yang berpegang dengan adat dan agama akan tetapi dalam masalah agam belum pada tahap istiqomah seperti melaksakan sholat tapi belum berhijab.
Bulan-bulan pertama setelah pernikahanku, mulailah saya mengikuti pengajian husu wanita di Mesjid yang di bawakan oleh Syekh Ya’qub Abu Kuwaik, melalui beliau lah Allah SWT menunjukan saya ke jalan yang selama ini jauh saya lalui.
Secara bertahap keimanan dan ke istiqomahan ku meningkat, mulailah saya memakai Hijab meskipun tantangan-tantangan yang saya hadapi dari suami.Banyak kurasakan kepedihan karena permasalahan Hijab dan ke Istiqomahan merupakan dua hal yang aneh dalam lingkungan keluargaku selama masa 35 tahun sampai beberapa kali saya kena ancaman thalak, semua saya hadapi dengan kesabaran dan kekuatan, tetap memakai hijab, istiqomah dan mendidik anak dengan pendidikan yang islami.
Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu menumbuhkan ajaran Jihad kepada anak-anak?
Ummu Nidhol : Sejak saya mengenal ke Istiqomahan tertanamlah dalam jiwa saya sebuah niatan untuk membina rumah dan keluarga islami yang semuanya di curahkan untuk Islam.
Sebelum gerakan Intifadhah dan Hamas muncul ke permukaan, saya sudah mendorong anak-anak untuk memahami ajaran agama Islam dengan pemahaman yang benar sehingga ketika tiba waktu kemerdekaan Al Quds mereka termasuk pelopornya.
Semua ini saya lakukan semata-mata mengharap ridho dan pahala dari Allah Swt.Alhamdulilah Allah Swt mewujudkan cita-cita saya dan memberi kehormatan kepada saya di dunia ini berupa syahidnya 3 anak, anak anak perempuan dan keluarga mereka tekun dan taat kepada ajaran Islam serta suami saya sebelum wafatnya alhamdulilah beritiqomah dalam islam.
Wafa’ Sa’dawy : Apa sebab-sebab terpenting sehingga ibu sukses seperti ini?
Ummu Nidhol: Seorang ibu merupakan Madrasah(tempat pendidikan) pertama bagi anak-anak nya, janganlah menunggu arahan dan himbauan dari yang lainya.Ibu-lah yang menjadi sebab penting dalam mencetak generasi penerus yang sukses sesuai dengan peran nya yang pokok dalam mendidik dan meberi pemahaman kepada anak-anak tentang agama sampai mereka tahu kewajiban seperti wajibnya Jihad, terutama untuk kasus palestina hukumnya wajib ‘ain.
Sejak masa awal perkebangan anak, saya tanamkan dalam diri mereka kecintaan dan kewajiban tentang jihad, latihan berbuat baik, besarnya tanggung jawab yang berkaitan dengan kejadian-kejadian dilapangan, nasehat-nasehat yang berupa anjuran dan larangan serta mengikutsertakan mereka dalam ibadah sehari-hari, seperti sholat malam, sholat fajar dan sholat duha.Selepas sholat saya berikan tausiah kepada mereka sehingga ketika menginjak usia syahab(dewasa) sudah tertanam kecintaan kepada jihad.
Sebab-sebab lain merupakan pelengkap dan pembantu seperti Mesjid, teman yang baik, kelompok teman berkumpul.Mereka memilih kelompok jihad islami karena Hamas belum berdiri, setelah Hamas berdiri mereka bergabung dengan Hamas melalui ‘Kataib Al Qosam" sampai rumah saya di jadikan oleh mereka sebagai tempat berkumpul.
Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana ibu mengatur antara kewajiban seorang ibu rumah tangga dan seorang aktifis di luar rumah?
Ummu Nidhol : Sesuai dengan urutan kepentingan nya, kemampuan mengatur waktu sangat membantu kita mencapai kesuksesan yang besar dan utama.Nah untuk mencapai sebuah tujuan kita harus korbankan kepentingan pribadi.
Wafa’ Sa’dawy : Apa faktor yang mendorong Hamas mengikuti pemilihan umum?
Ummu Nidhol : Iya, Hamas baru pertama kali mengikuti pemilihan umum, kita sebagai rakyat punya harapan kepada pemerintah agar tidak sendiri dalam menentukan aturan-aturan dan hukum-hukum.
Alhamdulillah pemilihan umum sukses dan sambutan rakyat luar biasa, mereka mengharapkan kepada kita agar bisa memperbaiki kerusakan dalam pemerintah sehingga ada perubahan dari realitas yang tidak baik ke arah yang lebih baik dalam semua segi kehidupan.
Wafa’ Sa’dawy : Dengan mengikuti pemilihan umum tentunya ada pengaruh-negatif- terhadap gerakan jihad, bagaimana pendapat ibu?
Ummu Nidhol : Peran politik tidak bisa di pisahkan dari gerakan jihad, satu sama lain saling menyempurnakan karena gerakan jihad butuh dukungan politik.
Wafa’ Sa’dawy : Ibu adalah perempuan pertama yang di calonkan oleh Hamas untuk DPR, apakah ini sebagai penghormatan kepada ibu karena posisi ibu seorang "ummu Syuhada" ataukah hanya sebagai upaya Hamas kedunia luar untuk menunjukan bahwa ada perkembangan perubahan pemikiran dalam tubuh hamas?
Ummu Nidhol : saya yakin hal ini karena pentingnya peranan wanita.
Wafa’ Sa’dawy : Dibawah penguasa penjajah tentunya semua tingkatan dalam bangsa Palestina kondisinya tidak lah mendukung, apa kiranya yang akan dilakukan hamas?
Ummu Nidhol : Kondisi negara terjajah bukanlah suatau masalah maksudnya tantangan karena kondisi-kondisi yang telah di lewati bangsa Palestina memberi pelajaran kepada kita bagaimana cara mengahadapi situasi tersulit.Aktifitas politik tidaklah sesulit melawan penjajah.
Wafa’ Sa’dawy : Dalam situasi yang penuh penderitaan seperti sekarang, apa yang akan di lakukan oleh perempuan Palestina di DPR?
Ummu Nidhol : Mencurahkan semua kemampuan dengan penuh optimis dan kebulatan tekad.Perempuan Palestina tidaklah lemah dalam segi kemampuan, mereka punya rasa optimis dan perencanaan yang siap mengemban tanggung jawab dalam situasi serba sulit dan tak mendukung.Aktifitas politik tidaklah sesulit mengahadapi penjajah.
Wafa’ Sa’dawy : Dalam pemilu di setiap wilayah terutama di Tepi, calon-calon dari Hamas sukses dengan kemenangan mutlak menyisihkan pesaing yang lainya, apakah kesuksesan ini kerena adanya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh gerakan "Fath"?
Ummu Nidhol : Oh tidak, tetapi karena kepercayaan masyarakat dan apa yang mereka rasakan dan persahabatan dalam aktifitas Hamas, inilah sebab utama sehingga kami menang mutlak.
Wafa’ Sa’dawy : Apakah sesuai dengan perkiraan ibu sebelumnya?
Ummu Nidhol : Iya
Wafa’ Sa’dawy : Bagaimana sikap masyarakat atas kemenangan Hamas?
Ummu Nidhol : sambutan yang hangat
Wafa’ Sa’dawy : Pesan ibu untuk kaum muslimah di dunia.
Ummu Nidhol : Kesadaran merupakan fenomena yang baik yang di bangun dengan keseriusan dan tidak merasa hina dengan melakukan hal tersebut.
Kami menginginkan agar kaum muslimah di seluruh dunia untuk lebih mencurahkan kesungguhan nya yang lebih besar lagi dalam menghadapi realitas yang pahit dan kesusahan yang menyeluruh.




